Kredit terus Meningkat, Bagaimana dengan Likuiditas Perbankan?

Pendahuluan

Pertumbuhan kredit Bank Umum Konvensional pada Februari 2019 tercatat mengalami kenaikan yakni menjadi Rp 5.227.992 miliar, dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 5.227.992 miliar. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan, kredit terus meningkat sejak tahun 2018. Bahkan pertumbuhan kredit tercatat hampir sebesar 12.16% (year on year) di bulan Januari 2019. Sedangkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang menjadi sumber utama operasional bank di bulan Januari hanya tumbuh sebesar 6.35% (year on year). Meskipun pada Februari 2019, Dana Pihak Ketiga tercatat naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit ini mempengaruhi Loan-to-Deposit Ratio, yang pada bulan Februari 2019 tercatat sebesar 94.12%, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 93.97%. Lalu bagaimana pengaruh kredit yang terus meningkat sedangkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang tidak sebanding dengan pertumbuhan kredit? Apakah hal ini mencerminkan kondisi yang bagus atau malah sebaliknya?

Pentingnya Dana Pihak Ketiga pada Bank

Menurut Kasmir (2017), bank memiliki tiga jenis sumber dana untuk kegiatan operasionalnya yaitu dana yang bersumber dari bank itu sendiri, dana dari masyarakat luas atau sering disebut sebagai Dana Pihak Ketiga, dan dana yang bersumber dari lembaga lainnya. Dana Pihak Ketiga merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasional bank dan menjadi ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai kegiatan operasionalnya melalui sumber ini (Kasmir, 2017). Dana Pihak Ketiga dihimpun dari uang nasabah yang disimpan pada bank yang berupa simpanan giro, simpanan tabungan, dan simpanan deposito. Tinggi rendahnya penghimpunan Dana Pihak Ketiga ini sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya suku bunga yang ditetapkan.
Sumber dana pada bank ini sangat penting keberadaannya karena menjadi sumber dana yang disalurkan kembali pada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk kredit. Oleh karena itu, banyak bank-bank yang menawarkan tawaran menarik agar masyarakat mau menyimpan uangnya di bank, sehingga uang tersebut nantinya bisa disalurkan kembali ke masyarakat. Pemberian kredit kepada masyarakat ini merupakan sumber keuntungan bagi pihak bank dari pembebanan bunga dan biaya administrasi yang diberikan. Keuntungan bank sendiri berasal dari selisih pemberian bunga kredit dengan bunga simpanan.
Namun rasio antara tingkat pemberian kredit dengan simpanan pada bank juga harus diperhatikan. Hal ini karena dapat mempengaruhi kondisi kesehatan bank yang dinilai dari sisi likuiditas.

Likuiditas sebagai Pengukur Kesehatan Bank

Menurut Sri Langgeng Ratnasari (2012) Bank Indonesia menilai kesehatan bank berdasarkan lima aspek, yakni permodalan, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, dan rentabilitas. Bank dikatakan likuid apabila bank dapat membayar kembali simpanan masyarakat yang berupa simpanan tabungan, giro, dan deposito pada saat ditagih dan dapat memenuhi semua permohonan kredit yang layak dibiayai. Likuiditas dihitung berdasarkan rasio antara aktiva lancar dibagi dengan utang lancar. Menurut Sri Susilo (2000) indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat likuiditas bank adalah: rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga, rasio kredit terhadap total dana pihak ketiga atau LDR, dan rasio surat berharga jangka pendek terhadap total surat berharga.
Likuiditas pada bank ini sangat berhubungan dengan Loan-to-Deposit Ratio (LDR), yang dipengaruhi oleh tingkat pemberian pinjaman kepada masyarakat dan tingkat simpanan uang pada bank. Bank yang sehat memiliki LDR 85% sampai 110%, jika LDR melebihi 110%, maka bank akan mengalami kesulitan likuiditas dan berdampak pada penurunan profitabilitas (Sri Susilo, 2000). Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/ 2013, LDR adalah rasio kredit yang diberikan kepada pihak ketiga dalam rupiah dan valuta asing, tidak termasuk kredit kepada bank lain, terhadap dana pihak ketiga yang mencakup giro, tabungan, dan deposito dalam rupiah dan valuta asing, tidak termasuk dana antar bank. Jika LDR terlalu tinggi, bank mungkin tidak memiliki cukup likuiditas untuk memenuhi persyaratan dana yang tidak terduga (Investopedia, 2019). Sebaliknya, jika rasio terlalu rendah, bank mungkin tidak menghasilkan keuntungan yang banyak karena kredit yang sedikit.
LDR dinilai berdasarkan rasio total kredit dengan total simpanan. Itulah mengapa, perlu untuk memperhatikan besar kredit dan simpanan pada perbankan karena dapat mempengaruhi LDR yang kemudian mempengaruhi likuiditas bank. Ketika pinjaman melebihi simpanan, bank akan menghadapi kekurangan pendanaan untuk pasar. Jika kekurangan pendanaan ini sangat tinggi, hal ini menjelaskan bahwa bank memiliki ketergantungan tinggi pada pendanaan pasar. Jika dalam lingkup nasional bank menghadapi kesenjangan dalam hal pemberian pinjaman dan penghimpunan dana (pinjaman yang diberikan melebihi sumber pendanaan), hal ini dapat membebani sektor perbankan secara keseluruhan, mempengaruhi pasokan kredit, bahkan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Hal ini diungkapkan oleh Jan Willem van den End (2013) dalam jurnal yang berjudul “A Macroprudential Approach to Address Liquidity Risk with the Loan-to-Deposit Ratio.
Bank Indonesia telah menetapkan batas atas dan batas bawah LDR yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/ 2013. Target batas bawah LDR adalah 78%, sedangkan target batas atas LDR adalah 92% per 2 Desember 2013. Jika ditelusuri lebih lanjut, per Februari 2019, LDR Bank Umum Konvensional per Februari 2019 adalah 94,12% (Otoritas Jasa Keuangan, 2019). Hal ini mengindikasikan bahwa LDR Bank Umum Konvensional melebihi batas atas LDR yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Lalu faktor apa yang mempengaruhi hal ini?

Rupanya hal ini disebabkan karena peningkatan pertumbuhan kredit pada bank tetapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan DPK yang signifikan. Per Januari 2019, pertumbuhan kredit adalah 12,15%, sedangkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga tumbuh sebesar 6,35% (Bloomberg). Lalu per Februari 2019, kredit meningkat lagi dari bulan Januari 2019 yaitu sebesar Rp 5.227.992 miliar dari Rp 5.186.616 miliar. Sedangkan Dana Pihak Ketiga per Februari 2019, meningkat menjadi Rp 5.600.412 miliar, dari Rp 5.563.162 miliar. Namun, tingkat LDR per Februari 2019 meningkat menjadi 94.12% dari 93.97% per Januari 2019 (sumber: Bloomberg & OJK). Lalu apakah hal ini mencerminkan suatu hal yang buruk?

Likuiditas Perbankan Indonesia pada Februari 2019 Cukup Aman

Menurut Yohannes Santoso, Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan OJK, pertumbuhan kredit ini mendorong tingginya pembiayaan untuk investasi dan infrastruktur, sehingga diharapkan dapat meningkatkan aktivitas ekonomi ke depan. Peningkatan kredit ini juga merupakan respons yang baik dari menurunnya ketidakpastian global. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa bisnis di Indonesia terus mengalami ekspansi dan terus berjalan. Bahkan, OJK menargetkan kredit tumbuh sebesar 12% sampai akhir tahun.
Meskipun LDR pada Februari 2019 naik, menurut Ketua Dewan Komisioner OJK, likuiditas perbankan cukup aman karena OJK selalu mengukur dana perbankan yang parkir di Bank Indonesia, Treasury, dan Surat Berharga. Walau sejak 2018 pertumbuhan kredit hampir dua kali lebih banyak dibandingkan dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga, bank masih memiliki akses likuiditas yang memadai.


REFERENSI

Kasmir, 2017. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Depok: Rajagrafindo Persada.
Susilo, Sri Y. 2000. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat.
Ratnasari, Sri Langgeng, 2012. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Surabaya: UPN Press
Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/2013 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/19/PBI/2010 tentang Giro Wajib Minimum Bank Umum Pada Bank Indnesia dalam Rupiah dan Valuta Asing.
End, Jan Willem van den End (2013). A Macroprudential Approah to Adress Liquidity Risk with the Loan-to-Deposit Ratio. DNB Working Paper, No.372.
Hutahuruk, Dina Mirayanti (2019, 28 Maret). Tren meningkat, kredit perbankan tumbuh 12.13 di Februari 2019.Dikutip 16 Juni 2019 dari Kontan: https://keuangan.kontan.co.id/news/tren-meningkat-kredit-perbankan-tumbuh-1213-di-februari-2019

Sembiring, Lidya Julita (2019, 28 Februari). Bos OJK: Likuiditas Bank Itu Isu Temporary. Dikutip 16 Juni 2019 dari CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/market/20190228120948-17-58128/bos-ojk-likuiditas-bank-itu-isu-temporary
Uly, Yohana Artha (2019, 28 Maret). OJK: Pertumbuhan Kredit di Februari 2019 Capai 12.13%. Dikutip 16 Juni 2019 dari Okezone: https://economy.okezone.com/read/2019/03/28/320/2036231/ojk-pertumbuhan-kredit-di-februari-2019-capai-12-13
Thertina, Martha Ruth (2019, 26 Februari). Likuiditas Bank Ketat, Rasio LDR Tertinggi Lebih dari 10 Tahun. Dikutip 15 Juni 2019 dari Katadata: https://m.katadata.co.id/berita/2019/02/26/likuiditas-bank-ketat-rasio-ldr-tertinggi-dalam-lebih-dari-10-tahun
Murphy, Chris B. (2019, 16 Mei). Loan-to-Deposit Ratio (LDR). Dikutip 15 Juni 2019 dari Investopedia: https://www.investopedia.com/terms/l/loan-to-deposit-ratio.asp

Comments