Suaramuda.com – Di tengah hamparan sawah Desa Gandu Kepuh, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, berdiri Klampis Ireng, sebuah petilasan yang hingga kini tetap menjadi bagian dari warisan budaya dan spiritual Jawa.
Suasana alam yang tenang, udara sejuk, serta lokasinya yang jauh dari keramaian menjadikan tempat ini kerap didatangi musafir dari berbagai daerah untuk berdoa, merenung, dan menenangkan diri.
Memasuki kawasan Klampis Ireng, pengunjung akan disambut dua patung Semar yang berdiri di gerbang utama. Dalam budaya Jawa, Semar dikenal sebagai simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, dan pengayoman. Keberadaannya menjadi pengingat agar manusia tetap rendah hati serta tidak melupakan nilai-nilai luhur kehidupan.
Klampis Ireng dikenal sebagai petilasan Eyang Bodronoyo yang memiliki tempat tersendiri dalam tradisi spiritual masyarakat Jawa. Berbagai kisah dan tradisi lisan masih hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari kearifan budaya yang terus dijaga hingga sekarang.
Spiritualis asal Tulungagung, Raden Roro Indah Pambayung, mengaku dirinya terpanggil datang ke Klampis Ireng untuk menikmati keheningan alam sekaligus menghormati leluhur.
“Tempat ini menghadirkan suasana yang berbeda. Ketika malam mulai sunyi, kita bisa lebih dekat dengan diri sendiri, menenangkan hati, dan melepaskan berbagai beban pikiran,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Menurut Indah, setelah berdoa di Stinggil Eyang Bodronoyo, ia memilih bermalam di gubuk kayu sederhana yang tersedia di kawasan petilasan.
Di tengah minimnya penerangan dan hembusan angin malam, suasana alam menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari. “Di sini kita belajar untuk diam sejenak. Bukan mencari sesuatu yang luar biasa, tetapi belajar memahami diri sendiri, tetap eling, dan lebih dekat kepada Gusti Allah,” katanya.
Ia menambahkan, perjalanan spiritual sejatinya bukan tentang simbol atau ritual semata, melainkan tentang membangun kesadaran diri, menjaga kerendahan hati, serta menghormati leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan.
Sementara itu, Juru Pelihara Klampis Ireng, Caplin, mengatakan kawasan tersebut setiap harinya menerima tamu dari berbagai daerah. Sebagian datang secara mandiri, sebagian lainnya bersama komunitas maupun paguyuban.
Klampis Ireng, dengan lingkup pepohonan kuat seperti klampis dan beringin, menghadirkan suasana hening dan sakral yang kerap dirasakan sebagai tempat untuk menenangkan diri dan semedi.
“Yang datang bermacam-macam. Ada yang berdoa, mencari ketenangan, maupun menikmati suasana alam. Kami juga menyediakan gubuk kayu sederhana untuk musafir yang ingin bermalam,” ujarnya.
Menurut Caplin, salah satu daya tarik Klampis Ireng adalah suasana alaminya yang masih terjaga. Petilasan ini berada di tengah area persawahan, membuatnya jauh dari kebisingan dan menghadirkan keteduhan bagi siapa saja yang datang.
Bagi banyak musafir, Klampis Ireng bukan sekadar petilasan. Tempat ini menjadi ruang perenungan untuk kembali mengingat nilai-nilai luhur budaya Jawa, menghormati leluhur, menjaga hubungan dengan alam, serta menumbuhkan kesadaran bahwa dalam keheningan sering kali manusia lebih mudah menemukan makna perjalanan hidupnya.(Ind)