Foto : Penampilan tari dari Keraton DIY di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Kabupaten Tulungagung

Suaramuda.com - Penampilan Tarian dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam agenda Muhibah Budaya 2023, bertempat di Pendopo Kongas Arum Kusumaningbongso, Ksbupaten Tulungagung, Senin (24/7/2023) malam.

Adapun tari yang ditampilkan pertama yaitu Tari Golek Jangkung Kuning merupakan tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh KRT Wiraguna pada tahun 1931. 

Selanjutnya, tari kedua persembahan Beksan Pethilan Anila - Prahasta merupakan tari klasik gaya Yogyakarta yang diambil dari Serat Ramayana. Beksan sendiri menceritakan peperangan antara Patih Prahasta dari negara Alengkadiraja melawan raden Anila dari Pancawati merupakan pendukung Prabu Ramawijaya.

Muhibah Budaya ini diselenggarakan atas kerjasama Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY bersama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, didukung oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kegiatah tersebut bertujuan untuk merajut persahabatan dan merangkai kembali Kesejarahan Mataram. 

Dengan tema ‘Merajut Budaya Mataram dari Yogyakarta untuk Indonesia’, diharapkan dapat memperkuat diplomasi budaya terutama di daerah yang memiliki hubungan sejarah dengan Mataram.

Sri Paduka menjelaskan, bila kita membuka lembaran sejarah, ada benang merah yang menyambung hubungan Yogyakarta dengan Tulungagung. 

Dikatakan Sri Paduka saat membacakan sambutan Gubernur DIY, Sejarah ini berawal dari Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, dimana Kabupaten Tulungagung dan beberapa daerah di Jawa Timur menjadi daerah mancanegara Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kata Sri Paduka, Apabila Muhibah Budaya ini dikemas dengan tujuan merajut budaya Mataraman dari Yogyakarta dan Tulungagung, guna memperkaya khasanah budaya Indonesia. 

Selanjutnya, Sri Paduka menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Tulungagung, terutama kepada Bapak Bupati, atas penyelenggaraan Muhibah Budaya ini. “Semoga dalam rangkaian acara ini, dapat memberi manfaat untuk pengembangan seni-budaya masyarakat kedua daerah, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Budaya Mataraman.

Sementara itu, Bupati Tulungagung Drs. Maryoto Birowo mengatakan, bahwa hubungan sejarah antara Yogyakarta dan Tulungagung sangatlah kuat sampai saat ini dengan ditandai tradisi jamasan Kanjeng Kyai Upas. 

“Pusaka Kanjeng Kyai Upas merupakan salah satu warisan dari zaman Mataram Islam, berupa Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas yang menurut sejarah dibawa oleh Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat putra dari pangeran Noyokusumo Pekalongan yang menjadi menantu Sultan Hamengkubuwono ke-2,"kata Bupati.

"Saat itu Kabupaten Tulungagung masih berbentuk Kadipaten Ngrowo,"ujarnya 

Untuk diketahui, Kabupaten Tulungagung terdapat warisan budaya yang mirip dengan budaya Yogyakarta, seperti masih ada kehidupan sanggar tari yang rerus melestarikan tari-tari klasik gagrak Yogyakarta atau Mataraman.

 “Mataraman yang sangat sarat dengan nilai-nilai luhur kita lestarikan sebagai pembelajaran kepada masyarakat khususnya generasi muda merupakan salah satu pedoman serta tuntutan kepada tercapainya tatanan masyarakat yang Gemah Ripah Toto Titi Tentrem Kerto Raharjo menuju Indonesia yang adil makmur damai dan sejahtera," sebut Maryoto.

Agenda Muhibah Budaya ini bisa menjadi wadah harmonisasi budaya serta mempererat tali silaturahmi. Selain itu pula, untuk menambah wawasan, informasi dan sebagai sarana pelestarian nilai-nilai budaya khususnya di kabupaten Tulungagung dan Yogyakarta.

Hadir dalam kegiatan Hibah Budaya Keraton Yogyakarta, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X bersama dengan Penghageng KHP Kridho Mardowo Karaton Nyagogyakarta Hadiningrat KPH Notonegoro, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi serta perwakilan OPD Pemda DIY. (Indh).