Suaramuda.com – Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menyoroti kualitas penyuplai bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul kembali terjadinya dugaan kasus MBG di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu. Kejadian ini menjadi yang kedua setelah sebelumnya terjadi di SMK Negeri 3 Tulungagung.
Ahmad Baharudin mengimbau masyarakat Tulungagung agar tetap tenang dan tidak langsung menyimpulkan kejadian tersebut sebagai keracunan makanan.“Saya menghimbau kepada masyarakat Tulungagung agar tetap tenang dan jangan langsung menganggap ini keracunan. Bisa jadi kondisi anak-anak sedang kurang fit atau jadwal makannya tidak sesuai, misalnya makanan terlalu lama setelah dimasak,” ujar Ahmad Baharudin, Rabu (21/01/2026).
Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak mengandung unsur kesengajaan dan tidak diharapkan oleh siapa pun. MBG yang dikonsumsi para siswa diketahui berasal dari dapur di wilayah Desa Moyoketen, Moyoketen 2, dan Jembatan Boyolangu. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Tulungagung masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan penyebab kejadian tersebut.
“Kami meminta masyarakat menunggu hasil uji laboratorium dari pihak kepolisian melalui Navis dan dari Dinas Kesehatan. Setelah hasilnya keluar, baru akan kami sampaikan ke publik,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, dapur MBG yang melayani SMK Negeri 3 Tulungagung untuk sementara dihentikan operasionalnya guna keperluan evaluasi.“Sementara dapur yang melayani SMKN 3 kami hentikan dulu agar dilakukan evaluasi dan persiapan yang lebih matang,” katanya.
Lebih lanjut, Ahmad Baharudin menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi evaluasi bagi seluruh dapur MBG atau SPPG di Kabupaten Tulungagung.“Ini menjadi evaluasi bagi semua SPPG agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Ia menyebut, Pemkab Tulungagung telah mengumpulkan pengelola SPPG, mitra, dan penyuplai di Bappeda untuk menegaskan pentingnya kualitas bahan pangan.
“Penyuplai harus benar-benar menjaga kualitas, karena ini program unggulan nasional yang harus kita sukseskan bersama,” ujarnya.
Ahmad Baharudin menambahkan, pihaknya belum dapat memastikan sumber kesalahan sebelum hasil uji laboratorium diterima.
“Di dapur sudah ada tahapan mulai dari penyuplai, penyimpanan, persiapan, memasak, hingga pengiriman. Semua akan jelas setelah hasil uji lab keluar,” pungkasnya.(Ind)