Foto: Kue Semprong Tiga Generasi Asal Tanon Laris Diburu Jelang Lebaran.

Suaramuda.com - Di tengah ketatnya persaingan usaha rumahan dan menjamurnya pelaku UMKM, kue semprong jadul khas Tulungagung produksi home industri milik Evi Sunari, warga RT 2 RW 02 Dusun Tanon, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, tetap bertahan dan menembus pasar luar kota.

Usaha turun-temurun yang telah berjalan selama tiga generasi ini dikenal dengan cita rasa gurih, manis, dan renyah di lidah. Kue semprong produksi Evi hadir dalam dua varian rasa, yakni jahe dan wijen. 

Keunikannya juga terlihat dari lima pilihan bentuk, mulai dari segitiga, balok, gulung, contong, hingga gulung mini. “Menjelang Lebaran pesanan mulai meningkat. Ada yang untuk konsumsi sendiri, ada juga yang dijual kembali,” ujar Evi, Sabtu (28/2/2026).

Tak hanya melayani pasar lokal, pesanan kue semprong Evi juga datang dari luar kota seperti Surabaya, Malang, hingga Jakarta. Bahkan, usaha ini telah membuka cabang di Kabupaten Madiun sebagai langkah memperluas pemasaran.

Dari sisi legalitas, produk kue semprong ini telah mengantongi izin BPOM dan memiliki label produk resmi, sehingga aman dikonsumsi dan layak dipasarkan secara luas. Kemasan yang rapi dan menarik membuatnya kerap dijadikan suvenir pernikahan maupun oleh-oleh khas Tulungagung.

Untuk pilihan kemasan, tersedia ukuran 200 gram, 250 gram, dan 500 gram dengan harga yang terjangkau. Hal ini menjadi salah satu strategi agar produk tetap diminati berbagai kalangan. Namun, di balik capaian tersebut, Evi mengakui adanya penurunan omzet dibandingkan tahun sebelumnya. Banyaknya usaha rumahan dan UMKM baru yang memproduksi camilan serupa membuat perputaran pasar semakin kompetitif.

“Sekarang pesaingnya banyak. Jadi memang terasa ada penurunan. Tapi kami tetap semangat,” katanya.

Meski tanpa karyawan, proses produksi tidak menjadi beban. Justru, usaha ini dijalankan bersama keluarga dengan saling membantu satu sama lain. Kebersamaan itulah yang menjadi kekuatan utama mempertahankan warisan usaha keluarga.

Secara edukatif, keberhasilan kue semprong Evi menunjukkan pentingnya menjaga kualitas produk, legalitas usaha, serta inovasi kemasan dalam menghadapi persaingan. 

Di tengah derasnya arus modernisasi kuliner, mempertahankan cita rasa tradisional dengan standar produksi yang baik menjadi nilai tambah tersendiri. Evi berharap kue semprong asli Tulungagung buatannya tetap menjadi pilihan masyarakat, sekaligus mampu menginspirasi pelaku UMKM lain agar terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi.“Harapan saya, usaha ini tetap bertahan dan bisa diteruskan generasi berikutnya,” pungkasnya. (Ind).