Suaramuda.com - Ancaman bahaya laten komunisme kembali disorot pada momentum Hari Kesaktian Pancasila, Rabu (1/10/2025). Plt Kepala Bidang Wawasan Kebangsaan (Wasbang), Badan Kesatuan Bangsa dan Politik ( Bakesbangpol) Kabupaten Tulungagung, Agus Prihadi, menegaskan bahwa meskipun sudah lama dilarang, ideologi komunis belum mati dan masih berupaya mencari celah dengan pola-pola baru.
“Komunisme jelas bertentangan dengan falsafah bangsa Indonesia. Salah satunya karena menolak keberadaan Tuhan, sedangkan sila pertama Pancasila secara tegas menegaskan negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Secara global, ideologi ini masih ada dan berpotensi masuk ke Indonesia. Karena itu, kewaspadaan harus tetap tinggi,” tegas Agus.
Ia menyebut, untuk wilayah Tulungagung sejauh ini belum ditemukan indikasi kebangkitan komunisme gaya baru. Namun, pola penyusupan di era digital perlu diwaspadai. “Biasanya muncul dalam bentuk penempelan simbol komunis di media digital, atau seruan terselubung melalui audio maupun video,” jelasnya.
Berbagai langkah dilakukan untuk menutup celah masuknya ideologi terlarang tersebut. Melalui bidang ideologi dan wawasan kebangsaan, Bakesbangpol melakukan sosialisasi bela negara, penguatan Pancasila lewat program Paskibraka, hingga gerakan pembagian bendera merah putih.
Di bidang politik dalam negeri, juga digencarkan pendidikan politik dan pembinaan organisasi masyarakat. Sementara di bidang kewaspadaan nasional, fokus diarahkan pada sosialisasi deteksi dini serta fasilitasi koordinasi Forkopimda.
“Semua langkah dilakukan dengan koordinasi, integrasi, dan sinergi lintas instansi. Peran TNI, Polri, dan pemerintah daerah sangat penting, baik dalam pencegahan maupun penindakan,” tambah Agus.
Menurutnya, generasi muda menjadi garda terdepan dalam menjaga ideologi bangsa. Mereka dituntut tidak sekadar menghafal, tetapi juga menghayati serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Masyarakat harus bisa mengenali pola penyusupan komunis gaya baru dan segera melaporkannya jika menemukan gelagat mencurigakan. Generasi muda juga harus kembali ke Pancasila, menghidupkan butir-butirnya dalam sikap, perkataan, dan perbuatan,” pesannya.
Agus menegaskan, pendidikan sejarah sangat penting agar generasi penerus bangsa tidak buta terhadap peristiwa kelam pengkhianatan G30S/PKI. Dengan memahami sejarah, mereka akan lebih peka terhadap pola lama maupun pola baru penyusupan ideologi komunis.
“Kita bangga dengan Garuda di dada, tapi harus lebih bangga dengan Pancasila di pikiran dan hati. Kesaktian Pancasila harus terus dijaga demi Indonesia yang damai,” pungkasnya. (Ind).