Tugas Mata Kuliah Filsafat
Oleh: Novia Rahmi
Mahasiswa Pasca Sarjana UPI


Pengetahuan merupakan kebenaran yang berasal dari keyakinan yang rasional, karena keyakinan yang rasional yang akan menjadi (syarat) pengetahuan. Rasional adalah sebuah bentuk pola pikir yang dimiliki oleh seseorang dan cenderung mengambil tindakan atau sikap berdasarkan pada logika yang logis. Dengan kata lain, rasional juga dapat diartikan sebagai pemikiran yang berdasarkan pada akal sehat manusia. Dengan konsep pemikiran yang rasional, seseorang akan mengambil keputusan terhadap berbagai macam pilihan yang dimiliki dengan menggunakan standar nilai yang logis. Hal ini tentu saja dilakukan untuk mencapai tujuan akhir yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kehidupan manusia di dunia penuh dengan ketidakpastian yang memungkinkan munculnya pemikiran yang irasional karena berhubungan erat dengan emosi. Emosi mungkin penting untuk mempertimbangkan hal yang pro dan kontra. Namun, jika emosi tersebut tidak dikontrol dengan baik, maka emosi tersebut dapat mempengaruhi seseorang dan membuat orang tersebut berpikir secara irasional. Tetapi jika kita tidak membiarkan emosi tersebut mendominasi pikiran, maka kebenaran pun akan selalu terlihat dan nyata. Mereka selalu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan sesuatu. Mereka menilai apakah langkah yang mereka ambil tersebut bernilai pro atau kontra di masyarakat. Oleh sebab itu, mereka akan mengumpulkan fakta dan data sebanyak mungkin sebelum mengambil keputusan.

Orang yang berpikir rasional tidak akan menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal yang sudah terjadi, mereka akan berpikir tentang target dan tujuan yang ingin dicapai di masa depan. Mereka akan merancang rencana untuk bisa menggapai impiannya. Mereka juga akan berorientasi pada kemajuan dan masa depan. Orang yang berpikir rasional biasanya tidak akan melakukan sesuatu jika tidak disertai dengan alasan yang kuat dan masuk akal. Oleh karena itu, orang-orang ini biasanya akan menanyakan alasan terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu agar mereka dapat mengetahui itu perbuatan yang logis atau tidak. Mereka tidak akan membuat keputusan atau melakukan sesuatu jika tidak mengetahui akibatnya. Karena mereka berpikir hal tersebut bisa saja memberikan dampak yang tidak baik untuk diri mereka sendiri, sehingga membuat mereka lebih banyak berpikir dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Bagi mereka untuk mencapai target atau tujuan bukanlah sesuatu yang sulit selama mereka melakukan pekerjaan dengan benar dan tepat. Setiap orang memiliki emosi dan cara untuk mengelolanya. Terlepas dari apapun yang dirasakan, orang yang rasional adalah tipe orang yang tidak akan membiarkan perasaan menghalanginya mengambil keputusan. Mereka merasa harus benar dan adil dalam mengambil keputusan. Anda perlu melompati jurang untuk menyelamatkan hidup anda (anda sedang dikejar oleh massa yang marah mungkin, dan ini adalah satu-satunya jalan keluar). Mengetahui tentang psikologi anda sendiri, anda mungkin sepenuhnya sadar bahwa jika anda memikirkan bahaya yang terlibat dalam lompatan ini maka anda tidak akan mampu mengumpulkan komitmen dan konsentrasi yang diperlukan untuk melompat dengan sukses. Dalam keadaan seperti itu, di mana tujuan anda adalah menyelamatkan diri, tindakan terbaik adalah mengabaikan bahaya sebisa mungkin menyingkirkannya dari pikiran dan hanya fokus pada lompatan itu. Sebuah keyakinan epistemik adalah keyakinan yang dapat menimbulkan banyak keyakinan lainnya, karena keyakinan yang berdiri sendiri kemungkinan adalah keyakinan yang irasional. Dalam arti tertentu, apa yang anda lakukan di sini sepenuhnya rasional, karena tindakan yang Anda lakukan memang merupakan cara terbaik untuk mencapai tujuan anda. Namun jenis rasionalitas di sini bukanlah rasionalitas epistemik, karena ini bukanlah rasionalitas yang ditujukan pada kebenaran sama sekali. Bahkan jika ada rasionalitas semacam ini ditujukan pada semacam penipuan diri sendiri. Sebaliknya jika seseorang hanya berfokus pada perolehan keyakinan sejati, maka itu sebenarnya akan mengurangi peluang anda untuk mencapai tujuan yang dimaksud karena itu akan membuat anda menyadari bahaya yang terlibat dalam lompatan tersebut dan dengan demikian merusak upaya anda untuk berhasil melakukan lompatan itu.

Rasionalitas dalam kasus ini tidak ditujukan pada kebenaran, bahkan jika keyakinan yang dihasilkan dari tindakan ini memang benar (yaitu anda bisa melakukan lompatan ini) ini bukan kasus pengetahuan karena anda tidak dapat mengetahui bahwa anda dapat membuat lompatan rasional. Dengan merenungkan bagaimana anda harus membuat lompatan untuk bertahan hidup. Lebih jauh, perhatikan bahwa meskipun bentuk rasionalitas non-epistemik yang berperan dalam kasus 'penipuan diri' mengakibatkan anda memegang keyakinan sebagai hasil dari melakukan suatu tindakan, misalnya rasional bagi anda dengan percaya diri mengambil langkah “itu” mengingat tujuan anda adalah menyelamatkan hidup. Namun, sebagai epistemologis, kami terutama tertarik pada keyakinan daripada tindakan, karena hanya keyakinan yang dapat menjadi kasus pengetahuan. Terutama keyakinan untuk percaya pada Tuhan, dengan menjalankan ibadah dan memaknai agama secara rasional akan memperoleh kebahagiaan dan ketenangan yang lebih tinggi dibanding yang hanya menjalankan agama sekadar formalitas. Rasionalisasi agama juga penting dalam menegakkan harmoni sosial, masyarakat perlu memahami bahwa keberagamaan bukan hanya soal penampilan lahiriah atau ritual tetapi juga nilai universal seperti keadilan, empati, dan kontribusi sosial. Ketika keyakinan agama dipadukan dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan, manusia tidak lagi merasa terombang-ambing di tengah arus zaman. Sebaliknya, mereka akan menemukan arah yang pasti, stabilitas batin, dan tujuan yang bermakna. Pada akhirnya, kita perlu melihat agama bukan hanya sebagai warisan budaya atau sekadar kewajiban ritual tetapi sebagai sistem yang hidup, yang terus memberi cahaya dan panduan di tengah dunia yang kompleks.(*)