Mbah Klinting: Kebangkitan Nuswantoro adalah amanah leluhur.

Suaramuda.com - Seorang lelaku spiritual Nusantara, Mbah Klinting, menegaskan bahwa kebangkitan Nuswantoro tidak boleh dimaknai sebagai kebangkitan kekuasaan maupun romantisme sejarah semata. Hal tersebut disampaikannya saat ditemui pada Jumat (2/12/2026).

Menurut Mbah Klinting, kebangkitan Nuswantoro sejatinya adalah kebangkitan kesadaran generasi penerus dalam memikul amanah leluhur melalui laku hidup yang beretika, jujur, dan bertanggung jawab. Ia menilai, tanda-tanda kesiapan generasi muda mulai terlihat, namun masih memerlukan pendalaman nilai serta pengendalian diri agar tidak berhenti pada simbol dan wacana.

“Nilai utama ajaran leluhur adalah keselarasan batin. Tanpa kejujuran dan tata krama hidup, kebangkitan hanya akan menjadi narasi kosong,” ujarnya.
Pandangan tersebut lahir dari perjalanan panjang yang telah dijalani Mbah Klinting. Ia mengungkapkan telah menjelajahi hampir separuh wilayah Nusantara, melintasi berbagai kota di Pulau Jawa hingga ke luar Jawa, termasuk beberapa wilayah di Kalimantan. 

Perjalanan itu ia sebut sebagai tapak tilas spiritual, bukan untuk mencari pengaruh atau pengakuan, melainkan sebagai laku hening untuk menyatu dengan alam semesta yang menuntunnya.

Di setiap tempat yang disinggahinya, Mbah Klinting lebih banyak berdiam dan menyerap suasana. Hutan, sungai, gunung, serta ruang-ruang sunyi menjadi bagian dari proses batin untuk menajamkan rasa dan memperdalam pemahaman terhadap pesan-pesan leluhur Nusantara. Ia memandang alam sebagai guru yang mengajarkan keseimbangan, kesabaran, dan batas dalam menjalani kehidupan.

Pengalaman lintas wilayah tersebut memperkuat keyakinannya bahwa ajaran leluhur Nusantara memiliki benang merah yang sama, meski hadir dalam ragam budaya dan tradisi. Nilai tentang keadilan, keselarasan, serta tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan hidup diyakininya hidup di setiap daerah, tidak terikat pada satu identitas atau kepentingan tertentu.

Ia juga mengingatkan bahwa arus modernisasi dan kepentingan politik berpotensi menyelewengkan makna kebangkitan Nuswantoro apabila tidak disikapi dengan kesadaran kritis. Menurutnya, leluhur Nusantara tidak pernah mengajarkan perebutan kuasa, melainkan tuntunan hidup yang adil, rendah hati, dan selaras dengan alam.

Lebih jauh, Mbah Klinting menegaskan bahwa kebangkitan Nuswantoro yang sejati harus tercermin dalam sikap generasi penerus yang tidak haus pengakuan, tidak gemar menonjolkan diri, serta konsisten bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.“Kebangkitan iku ora muni ing lambe , nanging katon ing tumindak,” pungkasnya.(Ind)