Foto: Afifa Safni, Mahasiswi Unilak Saat menggunakan ATBM, (Rabu, 6 Mei 2026).
Suaramuda.com - Di sudut kota Pekanbaru, denting halus alat tenun bukan mesin (ATBM) masih terdengar, mengalun pelan seperti menjaga denyut warisan budaya Melayu. Di balik itu, ada sosok muda yang tak hanya merawat tradisi, tetapi juga menghidupkannya kembali dengan sentuhan zaman: Afifa Safni.
Di usia 22 tahun, Afifa bukan sekadar mahasiswi semester empat jurusan Bisnis Digital di Universitas Lancang Kuning (Unilak). Ia adalah representasi generasi muda yang berani menjadikan budaya sebagai peluang usaha. Berbekal ilmu desain fesyen dari SMK Negeri 3 Pekanbaru, Afifa mengembangkan usaha tenun milik keluarganya yang telah dirintis sejak 2022 oleh sang ibu, Tengku Syarifah.
Di tangannya, kain tenun tak lagi sekadar lembaran tradisional. Ia menjelma menjadi tanjak elegan, selendang khas Melayu, hingga souvenir kreatif seperti tempat tisu yang diminati berbagai kalangan. Perpaduan antara nilai tradisi dan sentuhan modern menjadi kekuatan utama produknya.
Namun, di balik setiap produk yang dihasilkan, ada proses panjang yang tidak sederhana. Untuk membuat tiga buah tanjak, misalnya, dibutuhkan waktu hingga tiga hari pengerjaan. Proses ini sepenuhnya mengandalkan ketelitian tangan dan kesabaran, sesuatu yang tak bisa digantikan mesin.
Alih-alih menjadi hambatan, justru di situlah letak nilai lebihnya. Keaslian, kualitas, dan cerita di balik setiap tenunan menjadi daya tarik tersendiri di mata konsumen.
“Orang sekarang justru mencari produk yang punya nilai budaya dan tidak pasaran,” ungkap Afifa.
Pasar pun merespons positif. Produk tenun Afifa kini telah menjangkau berbagai pelanggan, mulai dari masyarakat umum hingga instansi pemerintahan tingkat kota dan provinsi. Dalam sebulan, omzet usahanya mampu mencapai Rp7 juta hingga Rp10 juta.
Perjalanan bisnis ini juga tidak lepas dari dukungan pembinaan UMKM, salah satunya dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang membantu Afifa dalam mengembangkan usahanya, terutama dalam aspek pemasaran dan manajemen.
Meski masih mengandalkan dua tenaga kerja—masing-masing di bagian servis dan produksi tenun—Afifa mulai memaksimalkan strategi digital. Media sosial dan platform online menjadi etalase utama produknya, membuka peluang pasar yang lebih luas tanpa batas geografis.
“Sekarang pemasaran lebih banyak lewat online, tapi pelanggan juga sering datang langsung ke tempat produksi,” katanya.
Tantangan tetap ada, terutama pada keterbatasan waktu produksi karena penggunaan alat tradisional. Namun, Afifa memilih untuk tidak mengorbankan kualitas demi kuantitas. Baginya, mempertahankan nilai budaya adalah bagian dari identitas usaha yang tidak bisa ditawar.
Kisah Afifa Safni menjadi bukti bahwa di tengah arus modernisasi, tradisi tidak harus tersisih. Dengan inovasi, konsistensi, dan sentuhan digital, warisan budaya seperti tenun ATBM justru bisa menemukan panggung baru—lebih luas, lebih modern, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai lokal. (HARISEP ARNO PUTRA)