Iklan

Iklan

,

Iklan

Mewujudkan Mimpi Kartini : Wanita dalam Perspektif Keorganisasian

Redaksi
21 Apr 2022, 08:58 WIB Last Updated 2022-05-01T00:27:02Z

Mewujudkan Mimpi Kartini : Wanita dalam Perspektif Keorganisasian

Mewujudkan Mimpi Kartini : Wanita dalam Perspektif Keorganisasian

Penulis : Witra Yeni


OPINI - Hari ini, 21 April 2022, diperingati sebagai Hari Kartini oleh Bangsa Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964  tertanggal 2 Mei 1964. 

Hari ini 143 tahun usia pendekar bangsa yang Bernama lengkap Raden Ajeng Kartini itu. Ia lahir pada 21 April 1879 dari ayah Bernama RM Sosroningrat dan ibu ngasirah. 

Kartini adalah  adalah seorang sosok perempuan Indonesia yang visioner. Memiliki visi misi jauh ke depan, melampui zamannya kala itu. 

Mimpi mimpi keindonesiaan Kartini telah banyak diwujudkan oleh perempuan Indonesia saat ini, yaitu dulunya Kartini mempunyai mimpi.

Perempuan Indonesia menjadi perempuan yang berpendidikan, mempunyai ketrampilan dan kecakapan yang berguna bagi perempuan.

Itu sendiri  dalam mengurus rumah tangga, mengurus anak dan keluarga, menjadi pendidik manusia utama di keluarga. 

Kartini juga mempunyai mimpi perempuan Indonesia memiliki persamaan hak dan kedudukan dalam  berperan serta membangun bangsa dan negara.

Kartini juga ingin perempuan Indonesia yang cerdas dan memiliki hak yang sama dengan laki laki dalam membangun bangsa tersebut tetap memiliki karakter dan kepribadian yang kuat.

Serta sadar akan kodratnya sebagai seoarng ibu yang mengandung anaknya, menyusi dan mendidik anak-anaknya. Juga tak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu.

Mimpi mimpi Kartini itu, selalu dituliskannya pada sahabta-sahabatnya yang ada di Benua Eropa, seperti Tuan dan Nyonya Abondano, Prof Anton dan istri, Nyonya Van Kool serta teman temannya di Eropa. 

Kumpulan surat surat Kartini itu akhirnya dibukukan oleh Jacques Abondanon menjadi sebuah buku Door Duisternistoot Licht ( Dari Kegelapan menuju Cahaya). 

Kemudian Armin Pane (1938)menulisnya dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. 

Perjuangan Kartini itu di masa itu, yang ingin memajukan kaumnya terutama di bidang Pendidikan, ia  dengan menjadi guru bagi murud-murid perempuannya.

Dengan tujuan ingin perempuan Indonesia tumbuh menjadi perempuan cerdas, berpendidikan tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang ibu bagi anak anaknya dan istri bagi suaminya.

Sesuai dengan tema, Wanita dalam perspektif Kebangsaan, tentu kita telisik dahulu apa aitu isti;ah perempuan dan Wanita. 

Kapan istilah perempuan dipkaai, dan kapan pula istilah Wanita dipergunakan. Apakah makna perempuan itu secara etimologis dan secara politis.

Apa sih beda kata perempuan dengan Wanita?, pertanyaan ini pasti sering bergelayut di benak kita. Manakah yang lebih tepat dan lebih nyaman dipakai, kata perempuan atau Wanita. 

Secara etimologiis, istilah Wanita berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu vanita, = yang memiliki arti “yang diinginkan” 

(Jadi disini jelas Wanita tidak merujuk pada jenis kelamin tapi sebagai “objek” yang selalu diinginkan oleh laki-lakii. Kata vanita kemudian diserap ke Bahasa jawa kuno menjadi Wanita.

Lalu, kata Perempuan, secara etimologis berasal dari kata empu yang berarti tuan, orang yang mahir/berkuasa ataupun kepala, hulu atau yang paling besar.

Sudarti dan D Jupriono menulis kata perempouan bernilai cukup tinggi – tidak di bawah, tapi sejajar bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki.

Kata perempuan berhubungan dengan kata ampuu yang artinya sokong, memerintah,penyangga, penjaga keselamatan. 

Karena kata Perempuan itu sarat akan keberdayaan serta perlawanan tersebut kemudian menjdaikan kata perempuan dipakain sebagai symbol pergerakan. 

Konggres perempuan  pertama tanggal 22 desember 1928 tidak memakai istilah konggres Wanita tapi konggres perempuan.

Namun setelah merdeka, kata perempuan diganti Presiden Soekarno menjadi Wanita , agar terdengar lebih halus. 

Konggres dirubah menjadi Konggres Wanita Indonesia (Kowani), ada organisasi Wanita Bernama Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) di masa itu.

Dalam buku Susan Blackburn yang berjudul Women and the state in modern Indonesia disebutkan bahwa di masa orde baru pemerintah melihat perempuan sebagai struktur grup di masyarakat.

Yang perlu di bawa ke jalan yang benar agar sejalan dengan cita-cita pemerintah dalam pembangunan, tidak banyak melawan dan pasif.

Penggunaan kata Wanita  saat masa orde baru tidak saja secara simbolik seperti di masa soelarno, tapi digiring dengan kodrat yang sesungguhnya yaitu halus.

Tunduk,patuh, mendukung dan mendampingi. Saat itu dibentuk Mentri Negara Urusan Peranan Wanita (MENUPW) serta organisasi istri istri pegawai negeri sipil, Dharma Wanita.

Organisasi Wanita yang dibentuk di zaman orde baru tersebut, masih ada hingga saat ini. Seperti Dharma Wanita, Persit, Ibu ibu Bhayangkari, dan organisasi Wanita lainnya. 

Dimasa orde baru organisasi Wanita lebih pada sebagai politik ibuisme negara (hasil penelitian, Julia Suryakusumah, seorang peneliti dan penulis)

Sebagai umat Isdlam, kita tahu bahwasanya perempuan mendapatkan tempat yang mulia. Suatu Ketika saat Rasulullah ditanya sahabat.

Siapakah terbih dahulu yang harus dihormati, maka nabi menjawab ibumu, ibumu, ibumu hingga 3x. setelah itu barulah ayahmu. Begitu mulia seorang ibu atau perempuan dalam gama Islam.

Dalam agama, islam, perempuan dijunjung tinggi kedudukannya dan menempati tempat yang terhormat. Nabi Saw pernah berkata dalam perkataanya yang begitu populer yaitu :

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik – baik perhiasan dunia adalah wanita.” dan di diriwayat lain Umar Ibn Khattab r.a juga pernah mengatakan :

“Wanita bukanlah pakaian yang bisa engkau kenakan dan kamu tinggalkan sesuka hati. Wanita itu terhormat dan memiliki haknya.”

Islam Menegaskan bahwa kaum laki-laki adalah pelindung untuk kaum perempuan. Kedua gender tersebut telah masing-masing diberi kelebihan.

Untuk saling melengkapi. keunggulan fisik laki-laki dan organ reproduksi perempuan jangan kita pahami sebagai kelebihan atau kekurangan.

Tetapi keduanya harus diarahkan untuk menjalankan fungsinya secara proporsional.  (***)

Iklan