Dosen dan Praktisi Ilmu Nutrisi dan Pakan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau.
Suaramuda.com - Selama ini, usaha peternakan sering dianggap sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca, terutama metana, yang dapat memperburuk perubahan iklim. Namun, anggapan tersebut kini mulai bergeser seiring dengan semakin dikenalnya tanin, senyawa alami dari tumbuhan yang terbukti mampu menurunkan emisi metana dari ternak ruminansia.
Tanin merupakan metabolit sekunder yang banyak ditemukan dalam tanaman seperti Indigofera zollingeriana, akasia, dan beberapa jenis leguminosa lain. Ketika digunakan dalam formulasi pakan, tanin berperan sebagai pengikat protein. Artinya, tanin membantu melindungi protein dari degradasi berlebihan di dalam rumen, sehingga lebih banyak protein yang dapat diserap di usus halus. Efek samping positifnya, tanin juga mampu menghambat produksi metana; gas yang selama ini dilepaskan melalui fermentasi dalam rumen ternak.
Dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh Sadarman dan koleganya, penggunaan tanin dalam pakan ternak secara signifikan mampu menekan produksi metana tanpa mengganggu performa atau kesehatan hewan. Hal ini membuka peluang besar bagi peternak untuk mengadopsi sistem peternakan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Kenapa Metana Perlu Dikurangi?
Metana adalah salah satu gas rumah kaca yang dampaknya terhadap pemanasan global 28 kali lebih besar dibanding karbon dioksida dalam jangka waktu 100 tahun. Sapi, kambing, dan domba menghasilkan metana melalui proses fermentasi pakan di rumennya; proses alami, tetapi jika tidak dikelola, bisa memberi dampak buruk bagi lingkungan.
Dengan penggunaan tanin sebagai bagian dari strategi nutrisi, emisi metana dapat ditekan hingga 20–30%. Hal ini menjadikan tanin sebagai salah satu solusi potensial dalam menjawab tantangan global terkait perubahan iklim.
Tanin Bukan Racun, Tapi Solusi
Tanin selama ini dikenal sebagai senyawa yang bersifat antinutrisi, sehingga banyak peternak menghindari penggunaannya dalam pakan. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, pandangan tersebut mulai bergeser. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tanin, bila digunakan dalam dosis yang tepat, justru dapat memberikan manfaat besar dalam sistem pencernaan ruminansia.
Beberapa manfaat tanin antara lain meningkatkan efisiensi penggunaan protein, menekan populasi mikroba penghasil metana, menjaga keseimbangan fermentasi dalam rumen, serta mendukung kesehatan pencernaan ternak secara keseluruhan. Dengan kata lain, tanin bukan lagi dianggap sebagai pengganggu, tetapi sebagai komponen penting dalam strategi nutrisi modern yang mendukung peternakan berkelanjutan.
Kunci dari keberhasilan pemanfaatan tanin terletak pada formulasi pakan yang tepat. Dengan pendekatan ilmiah dan penggunaan bahan pakan lokal yang mengandung tanin, seperti daun Indigofera atau limbah pertanian terpilih, peternak dapat menciptakan pakan yang bernilai gizi tinggi sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan emisi metana dan pelestarian lingkungan.
Menuju Peternakan Berkelanjutan
Dengan meningkatnya permintaan protein hewani seiring pertumbuhan jumlah penduduk, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan ganda: meningkatkan produksi sekaligus menjaga keberlanjutan. Tidak cukup hanya berfokus pada kuantitas, sistem peternakan masa depan harus pula memerhatikan dampak ekologis dan efisiensi sumber daya yang digunakan.
Dalam konteks inilah, aditif pakan alami seperti tanin memainkan peran yang semakin strategis. Tanin menawarkan solusi praktis dan ilmiah untuk membantu peternak menghadirkan sistem produksi yang tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan.
Melalui pemanfaatan tanin, berbagai aspek penting dapat dicapai secara bersamaan, seperti penurunan emisi gas rumah kaca, pengurangan ketergantungan pada bahan pakan impor, peningkatan efisiensi penggunaan nutrisi, hingga peningkatan daya saing produk peternakan Indonesia di pasar global.
Kesimpulan
Tanin bukan sekadar senyawa alami dalam tumbuhan. Ketika digunakan secara bijak, tanin dapat menjadi alat penting untuk menekan emisi metana dari ternak dan menjadikan peternakan sebagai bagian dari solusi, bukan masalah, dalam krisis iklim global.
Melalui edukasi dan pemanfaatan teknologi pakan yang tepat, peternak Indonesia bisa menjadi pionir dalam penerapan sistem peternakan yang ramah lingkungan. Kini saatnya kita melihat peternakan bukan sebagai penyumbang emisi, tetapi sebagai bagian dari upaya penyelamatan bumi.
Oleh Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM