Suaramuda.com - Musim panen tahun ini membawa kabar baik bagi masyarakat Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Kepala Desa Gedangsewu, Miswan, menyebutkan bahwa hasil panen padi tahun 2025 sangat melimpah, bahkan melebihi ekspektasi petani.
“Pertanian adalah nafas warga kami. Mayoritas masyarakat Gedangsewu menggantungkan hidup dari sawah. Alhamdulillah, tahun ini panen sangat bagus,” ujar Miswan saat ditemui di temui Suaramuda, Sabtu (13/9/2025)
Miswan menjelaskan, mayoritas petani di desanya menanam padi sebagai komoditas utama. Usai panen padi, sebagian petani juga menanam palawija sebagai alternatif, namun tetap padi menjadi tumpuan utama ekonomi desa.
“Petani kami fokus pada padi. Setelah panen, biasanya mereka beralih ke palawija seperti jagung atau kacang, tapi itu hanya selingan. Padi tetap utama,” jelasnya.
Keberhasilan sektor pertanian di Desa Gedangsewu, menurut Miswan, tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Mulai dari Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), HIPA (Himpunan Petani Pemakai Air), hingga penyuluh pertanian dari dinas terkait.
“Kami didampingi oleh banyak pihak. Kalau ada masalah di lapangan, penyuluh pertanian siap turun langsung membimbing petani. Koordinasi ini sangat penting dalam menjaga mutu dan hasil tanaman,” ujarnya.
Meskipun cuaca tahun ini cenderung tidak menentu, Miswan memastikan bahwa kondisi alam masih bersahabat bagi pertanian. Tidak ada gangguan hama besar, dan curah hujan masih dalam batas normal.
“Tahun ini cuaca cukup mendukung. Tidak ada serangan hama besar, dan hujan juga tidak ekstrim. Bahkan harga gabah di pasaran sedang naik. Ini berkah bagi petani,” katanya.
Pemerintah Desa Gedangsewu terus memberikan dukungan bagi para petani, terutama dalam hal pengairan dan akses penyuluhan. Koordinasi dengan dinas pertanian dan pengelola irigasi menjadi prioritas agar proses tanam dan panen berjalan lancar.
“Kami rutin berkoordinasi dengan pihak pengairan untuk memastikan pasokan air ke sawah cukup. Alhamdulillah, semua lancar. Petani tidak kesulitan air,” ujar Miswan.
Di tengah arus urbanisasi, Gedangsewu tetap mempertahankan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi desa. Menurut Miswan, hal ini karena sebagian besar warga belum memiliki keahlian di sektor lain, sehingga pertanian menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Meski dekat dengan kota, warga kami tetap bertani. Bagi mereka, pertanian bukan sekadar pekerjaan, tapi cara bertahan hidup,” tegasnya.
Dengan hasil panen yang baik, harga gabah yang menguntungkan, serta dukungan dari berbagai pihak, Desa Gedangsewu berharap sektor pertanian tetap menjadi andalan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. (Ind).