Jejak Solidaritas di Tengah Reruntuhan:
Sebuah Perjalanan Menyusuri Luka dan Harapan di Malalak Timur
Oleh: Molli Wahyuni
Suaramuda.com - Di pengujung November 2025, langit di atas Sumatera Barat menangis tanpa henti. Hujan mengguyur selama lebih dari seminggu, mengubah rintik biasa menjadi ancaman yang merayap. Di Kabupaten Agam yang elok, air yang semula menghidupi perlahan berubah menjadi tanda bahaya. Hingga pada suatu Jumat, bumi tak lagi sanggup menahan beban. “Galodo”, demikian warga menyebutnya, datang menerjang. Banjir bandang yang menyatukan air, lumpur, batu, dan ribuan kayu gelondongan menjadi satu amukan dahsyat. Agam, bersama Solok, Tanah Datar, dan Padang, terkoyak. Dalam sekejap, tangis pecah, rumah-rumah hancur, harta benda lenyap, dan sejumlah nyawa melayang.
Informasi tentang galodo tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru tanah air. Dari layar ponsel, saya selaku putra daerah Kabupaten Agam terus memantau perkembangan. Kecemasan menyergap ketika kabar berantai datang: rumah orang tua di Agam sempat terendam. Dr. Novi Irwan, M.M., sahabat saya yang juga anggota DPRD Agam, mengonfirmasi kabar duka itu. "Selain Palembayan, Malalak juga terdampak sangat parah," suaranya terdengar sesak di ujung telepon.
"Kami masih mencari cara menerobos akses ke sana. Jalan-jalan putus total," ucapnya. Novi memberikan informasi kepada saya di sela kesibukannya mengoordinasi tanggap darurat. Warga masyarakat di Palembayan, Malalak, dan daerah lain terisolasi.
Dalam kegelisahan itu, tangan-tangan baik dari teman-teman di Riau pun terulur. Mereka mempercayakan saya untuk menyalurkan bantuan secara langsung kepada korban di Jorong Toboh, Malalak Timur—salah satu titik terparah yang masih sulit terjangkau. Sebuah perjalanan penuh makna pun dimulai, dengan tekad untuk menemukan celah di tengah jalan yang terputus.
Perjalanan Menyusur Jejak Bencana
Tepat siang itu, sekitar pukul 14.30 WIB di halaman Markaz Islamy Bangkinang, saya bersama Ustadzah Dr. Nining dan suaminya memulai langkah menuju Agam pada Senin, 15 Desember 2025. Dua mobil pick up sarat dengan muatan bantuan berupa peralatan masak, bahan makanan, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya. Langit kelabu dan gerimis menemani sepanjang jalan, seolah mengingatkan pada kesuraman yang menunggu. Malam pertama kami singgah di kediaman Bu Arma Yunita yang akrab disapa Bu Ami, seorang sahabat saya semasa SMA, di Simpang Kapau, Agam. Sambutan hangatnya menjadi penawar lelah sebelum esok hari menghadapi kenyataan pahit.
Keesokan pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Jorong Toboh. Kata-kata Novi kembali terngiang: "menerobos akses". Frasa itu kini menjadi kenyataan fisik. Karena jembatan kembar Padang Panjang–Tanah Datar masih terputus, kami harus melalui rute alternatif: Kelok 44 yang legendaris menuju Maninjau dan Lubuk Basung. Di sepanjang kelok, pemandangan mengiris hati. Banyak titik longsor, jalan dan jembatan luluh lantak, serta pemukiman warga yang hancur diterjang galodo. Perjalanan yang seharusnya tidak sampai tiga jam, molor menjadi 7–8 jam akibat jalan putus dan risiko longsor susulan. Hati kami terus dihantui kecemasan, namun tekad untuk sampai ke tujuan lebih kuat. "Awas Pak Yos, jalan terjal, ada longsor," celetuk saya sesekali mengingatkan sepupu saya yang sedang menyetir.
Bilqis: Detik-Detik yang Membekas di Ingatan
Di tengah perjalanan yang penuh ketidakpastian itu, Bilqis Azzahra yang merupakan adik kelas saya di MAN 1 Bukittinggi yang menjadi pemandu kami dari Bukittinggi ke Malalak, bercerita dengan suara yang sesekali tercekat. "Sejak 26 November, hujan tidak berhenti," mulainya, matanya menerawang ke luar jendela. "Rabu itu, sekitar pukul tiga sore, hujan begitu keras disertai angin. Air di parit yang biasanya tenang tiba-tiba meluap hingga ke jalan. Lalu dari arah bukit, terlihat seperti kumpulan asap putih yang sangat besar." Suaranya bergetar. "Ternyata itu percikan air dari dinding bukit yang longsor. Suaranya... seperti helikopter tepat di atas atap rumah."
Ia menarik napas dalam. "Seorang pemuda berlari sambil berteriak: 'Galodo besar!' Warga berhamburan keluar. Saat itu saya sedang di rumah tetangga. Saya langsung berlari pulang untuk menjemput adik yang tertinggal tertidur. Namun ketika sampai, adik sudah tidak ada."
Bilqis menutup mata sejenak, seolah kembali ke momen itu. "Saya berniat mencari ke TPA karena hari itu jadwal mengaji. Saat berlari, saya melihat air besar berwarna cokelat datang. Semua warga menangis, berlarian tanpa arah. Akhirnya saya melihat adik bersama ayahnya di bawah. Namun air sudah sampai ke kampung. Warga terbelah—ada yang ke kanan, ada yang ke kiri. Saya ke kiri karena ujung jalan sudah terkepung tanah bercampur air setinggi lima meter."
Kisahnya berlanjut dengan detail yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kami akhirnya lari ke tengah sawah. Kiri kanan sudah penuh lumpur. Kami bertahan di sana selama satu jam, terus memperhatikan arah air karena tidak tahu harus lari ke mana." Setelah keadaan mereda, warga kampung sebelah mengevakuasi mereka ke masjid. "Baru tanggal 30 November kami diizinkan kembali melihat rumah."
Duka yang Berlapis
"Warga sempat mengira saya meninggal," ungkap Bilqis lirih. "Karena saya tidak ditemukan di titik pengungsian utama." Kisah survival-nya yang heroik ternyata hanya satu lapisan dari duka yang ia tanggung. Beberapa pekan sebelum galodo, sang ayah telah berpulang karena sakit, meninggalkan mereka dalam kondisi yatim. "Seperti diuji berkali-kali," bisiknya.
Bilqis juga mengisahkan pahitnya hari-hari pertama di pengungsian. "Kami makan seadanya. Bantuan sulit masuk karena jalan-jalan menuju Malalak terputus longsor." Batuknya yang masih berat menjadi saksi trauma dan kondisi pengungsian yang serba terbatas. Meski begitu, tekadnya untuk memandu kami ke kampung halamannya tak goyah. "Saya mau melihat kondisi sebenarnya. Mau membantu yang lain juga."
(Tim relawan di posko pengungsian mandiri milik warga)
Pertemuan dengan Reruntuhan dan Kenangan yang Tersisa
Sekitar pukul 16.00 WIB, kami akhirnya tiba di Jorong Toboh. Reruntuhan menyambut: rumah-rumah rata dengan tanah, sebagian masih berdiri tetapi dipenuhi lumpur setinggi dada orang dewasa. Kendaraan roda empat dan dua hancur tak berbentuk. Personel TNI, Polri, dan BPBD hilir mudik membantu evakuasi dan pembersihan. Bau anyir tanah basah dan lumpur menusuk hidung karena masih ada tiga orang warga yang belum ditemukan di tengah puing longsor tersebut.
Di tengah kepiluan itu, kami menyusuri jalan setapak menuju bukit, tempat yang dalam cerita Bilqis menjadi sumber "asap putih" yang menandai awal bencana. Seorang warga tampak berusaha mencuci pakaian berlumpur agar bisa dipakai lagi. "Ini baju terakhir yang masih tersisa," katanya, matanya berkaca-kaca.
Solidaritas dalam Reruntuhan
Di lokasi pengungsian, kami disambut oleh para ibu dan anak-anak dengan wajah lelah namun penuh harap. Mereka bercerita tentang malam mengerikan itu dengan detail yang saling melengkapi cerita Bilqis. Kami mengadakan trauma healing dengan pendekatan keagamaan, mencoba mengobati luka batin yang mungkin lebih dalam dari kerusakan fisik. Bantuan dari masyarakat Kampar dan Pekanbaru, termasuk dari pengusaha ikan salai patin Desa Pulau Gadang, kami serahkan dengan harapan bisa meringankan beban mereka.
Sebelum kembali ke Riau, langit kembali gelap. Gerimis dan angin dingin menemani perjalanan pulang. Kali ini, kami memberanikan diri melintasi Jembatan Kembar Padang Panjang yang baru saja dibuka untuk kendaraan roda empat, sebuah perkembangan yang mungkin menjadi jawaban dari usaha "menerobos akses" yang disebutkan Novi. Melewati jembatan yang menjadi simbol pemulihan itu, hati terasa campur aduk: sedih meninggalkan saudara-saudara yang masih berjuang, namun juga berharap agar setiap pemulihan berlangsung cepat menuju kehidupan yang lebih baik.
Refleksi: Di Balik Setiap Reruntuhan
Perjalanan ini bukan sekadar tentang menyalurkan bantuan. Melalui kisah Bilqis yang detail dan menggetarkan, kami menyaksikan paradoks kehidupan: betapa rapuhnya manusia di hadapan amukan alam, namun betapa tak terduganya kekuatan manusia untuk bertahan. Saat Bilqis berlari ke tengah sawah tanpa tahu arah, saat ia bertahan satu jam di antara lumpur yang mengganas, di situlah kami melihat ketangguhan dalam bentuknya yang paling mentah.
Di tengah reruntuhan, kami menemukan fragmen-fragmen ketangguhan: seorang gadis yatim yang memilih kembali ke lokasi bencana demi membantu sesama, warga yang dengan peralatan seadanya berusaha membersihkan lumpur dari sisa-sisa kehidupan mereka, dan senyuman anak-anak di pengungsian yang tetap berseri meski dunia mereka baru saja porak-poranda.
Galodo mungkin telah meluluhlantakkan rumah, merenggut nyawa dan harta benda. Namun benih harapan tak pernah musnah. Pesan Novi tentang upaya "menerobos akses" kini telah menjadi pengalaman nyata, sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa di balik setiap jalan yang terputus, selalu ada tekad manusia yang tak terputus.
Jembatan kembar yang kami lintasi malam itu bukan hanya struktur beton. Ia adalah metafora yang hidup: bahwa setelah setiap keterputusan, akan selalu ada tangan-tangan yang bekerja menyambungnya kembali. Tangan-tangan tanpa nama, para relawan seperti kami, para aktivis, politisi, pemerintahan, bahkan survivor seperti Bilqis, warga yang saling menopang, yang percaya bahwa solidaritas adalah jembatan terkuat menuju pemulihan.
Di tanah Agam yang tercabik itu, kami belajar makna sejati dari kata "pulang". Bahwa pulang bukan hanya tentang kembali ke tempat, tetapi tentang menemukan kembali kemanusiaan kita yang paling dasar: untuk peduli, untuk berbagi, dan untuk percaya bahwa setelah setiap kehancuran, setelah setiap lari ke tengah sawah tanpa harapan, selalu ada fajar baru yang menanti. Seperti Bilqis yang menemukan adiknya di tengah chaos, seperti jalan-jalan yang perlahan dibuka kembali, seperti harapan yang tumbuh di antara puing-puing.
(Molli Wahyuni)