Foto: Sukino Bangkit Bersama KUR BRI dari Usaha Batako di Pulau Gadang, Ahad, 14 Juni 2026.

Suaramuda.com – Suara mesin pengaduk semen memecah kesunyian pagi di sebuah sudut Desa Pulau Gadang, Kabupaten Kampar. Tumpukan pasir, semen, dan deretan batako yang sedang dijemur terlihat memenuhi halaman rumah sederhana milik Sukino.

Di tempat itulah harapan seorang kepala keluarga tumbuh sedikit demi sedikit.

Bagi sebagian orang, mengagunkan sertifikat rumah untuk mendapatkan modal usaha mungkin terdengar sebagai keputusan yang berisiko. Namun bagi Sukino, langkah tersebut menjadi satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarganya.

Dengan tanggung jawab menafkahi seorang istri dan empat orang anak, pria asal Pulau Gadang itu memilih mengambil risiko besar. Ia memberanikan diri mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp50 juta untuk membuka usaha produksi batako.

Keputusan yang awalnya membuatnya dihantui rasa khawatir itu, kini justru menjadi titik balik kehidupan keluarganya.

Ketika Kebutuhan Hidup Terus Bertambah

Beberapa tahun lalu, kehidupan Sukino berjalan seperti kebanyakan masyarakat desa lainnya. Ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun seiring bertambahnya kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak-anaknya, penghasilan yang diperoleh sering kali tidak cukup.

Sebagai kepala keluarga, ia memahami bahwa dirinya harus mencari jalan agar ekonomi keluarganya bisa lebih baik.

“Saya berpikir tidak mungkin terus mengandalkan pekerjaan harian. Harus ada usaha sendiri supaya penghasilan lebih stabil,” kenangnya.

Di tengah pencarian peluang usaha tersebut, Sukino melihat tingginya kebutuhan material bangunan di wilayah Kampar dan sekitarnya. Pembangunan rumah, ruko, dan berbagai proyek infrastruktur terus berjalan.

Dari situlah muncul ide untuk membuka usaha pembuatan batako.

Namun persoalan klasik kembali menghadangnya: modal.

Untuk memulai usaha batako, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Ia harus membeli mesin cetak, menyediakan bahan baku, membangun tempat produksi, hingga menyiapkan biaya operasional awal.

Sementara tabungan keluarga jauh dari cukup.

Menggadaikan Rasa Takut Demi Masa Depan Anak-anak

Kesempatan itu datang ketika Sukino mendapatkan informasi mengenai program KUR BRI yang memberikan akses pembiayaan kepada pelaku usaha mikro dan kecil.

Meski tertarik, ia mengaku sempat dilanda keraguan.

Bagaimana jika usaha gagal?

Bagaimana jika tidak mampu membayar cicilan?

Bagaimana jika rumah yang menjadi jaminan harus hilang?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuinya selama berhari-hari.

Namun setiap kali melihat kebutuhan keluarganya yang semakin besar, tekadnya semakin kuat.

“Saya pikir kalau tidak berani mencoba, sampai kapan pun ekonomi keluarga tidak akan berubah,” ujarnya.

Akhirnya, Sukino memberanikan diri mengagunkan sertifikat rumahnya dan mengajukan pinjaman KUR BRI sebesar Rp50 juta.

Baginya, keputusan tersebut bukan sekadar mencari modal usaha, tetapi sebuah perjuangan untuk masa depan istri dan keempat anaknya.

Dari Halaman Rumah Menjadi Tempat Produksi

Dana KUR yang diperolehnya langsung dimanfaatkan untuk membangun usaha.

Ia membeli peralatan produksi, menyiapkan bahan baku, dan mulai memproduksi batako secara bertahap.

Hari-hari awal tidak selalu berjalan mulus.

Produksi masih terbatas dan pelanggan belum banyak. Sukino bahkan harus turun langsung mengantar pesanan ke sejumlah lokasi pembangunan untuk memperkenalkan usahanya.

Namun kerja keras perlahan membuahkan hasil.

Kualitas batako yang dihasilkannya mulai dikenal masyarakat. Pesanan datang dari warga sekitar, kemudian meluas ke desa-desa lain.

Lambat laun, usaha yang awalnya hanya dikerjakan dalam skala kecil itu berkembang menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

“Alhamdulillah, sekarang pesanan terus ada. Bahkan setiap minggu ada order dari luar daerah,” katanya dengan wajah penuh syukur.

Kebanjiran Pesanan dari Berbagai Wilayah

Saat ini, halaman rumah Sukino tidak pernah sepi aktivitas.

Setiap hari, puluhan hingga ratusan batako diproduksi untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat Pulau Gadang, produknya juga mulai digunakan dalam berbagai proyek pembangunan di wilayah sekitar.

Permintaan yang terus meningkat membuat usaha tersebut mampu bertahan dan berkembang.

Bahkan pada musim pembangunan, jumlah pesanan sering kali melebihi kapasitas produksi harian.

“Kami berusaha menjaga kualitas supaya pelanggan tetap percaya,” ujarnya.

Kepercayaan pelanggan itulah yang menjadi modal terbesar setelah modal usaha yang diperolehnya dari KUR BRI.

Angsuran Ringan, Usaha Tetap Berjalan

Salah satu hal yang paling dirasakan manfaatnya oleh Sukino adalah skema pembiayaan KUR BRI yang dinilainya ringan dan terjangkau.

Menurutnya, besaran angsuran bulanan masih sesuai dengan kemampuan usaha yang dijalankan.

Selain itu, bunga yang relatif rendah membuatnya tidak terbebani dalam mengelola keuangan usaha maupun kebutuhan rumah tangga.

“Alhamdulillah angsurannya masih bisa dijangkau. Jadi usaha tetap berjalan dan kewajiban ke bank juga bisa dipenuhi dengan baik,” tuturnya.

Bagi pelaku usaha mikro seperti dirinya, kemudahan akses permodalan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Tanpa dukungan modal yang memadai, usaha sulit berkembang meskipun peluang pasar terbuka lebar.

KUR BRI Membuka Jalan bagi Masyarakat Kecil

Kisah Sukino menjadi gambaran nyata bagaimana akses pembiayaan dapat mengubah kehidupan masyarakat.

Program KUR BRI tidak hanya memberikan pinjaman modal, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk berkembang, meningkatkan pendapatan, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Di banyak daerah, masih banyak masyarakat yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk berusaha, namun terkendala keterbatasan modal.

Melalui KUR, harapan untuk membangun usaha menjadi lebih terbuka.

Bagi Sukino, manfaat yang dirasakan jauh melampaui angka Rp50 juta yang diterimanya.

Dana tersebut telah membantu keluarganya bertahan, membesarkan usaha, dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Harapan untuk Masyarakat

Di sela kesibukannya mengawasi proses produksi batako, Sukino menyampaikan harapannya agar program KUR BRI terus berlanjut dan semakin mudah diakses masyarakat.

Menurutnya, masih banyak warga yang memiliki semangat usaha tinggi tetapi belum memiliki modal yang cukup.

“Semoga program KUR BRI terus ada dan semakin memudahkan masyarakat kecil seperti kami. Karena program ini benar-benar membantu orang yang ingin berusaha dan memperbaiki ekonomi keluarga,” harapnya.

Sore mulai turun di Pulau Gadang. Deretan batako yang dijemur tampak berdiri rapi menunggu dikirim ke pelanggan.

Di balik setiap batako yang dicetak, tersimpan cerita tentang keberanian seorang ayah yang rela mempertaruhkan rasa takut demi masa depan keluarganya.

Sukino membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah. Dengan kerja keras, keberanian mengambil peluang, dan dukungan modal dari KUR BRI, usaha kecil di halaman rumah kini telah menjelma menjadi sumber harapan bagi enam anggota keluarganya.

Dan semuanya bermula dari satu keputusan besar: berani melangkah ketika banyak orang memilih berhenti.