Foto: Suriati pengusaha keramba ikan nila, Ahad,14 Juni 2026.
Suaramuda.com – Pagi itu, embun masih menggantung di permukaan sungai yang membelah Desa Pulau Terap. Di antara deretan keramba ikan yang mengapung tenang, seorang perempuan tampak sibuk menaburkan pakan ke dalam petak-petak budidaya ikan nila miliknya.
Namanya Suriati (52). Warga Desa Pulau Terap ini tak pernah membayangkan bahwa usaha keramba yang kini menjadi sumber penghidupan keluarganya berawal dari sebuah keputusan besar yang sempat membuatnya ragu.
Beberapa tahun lalu, Suriati hanyalah ibu rumah tangga biasa yang membantu suami mencari tambahan penghasilan. Keterbatasan modal membuatnya sulit mengembangkan usaha perikanan yang sudah lama ia impikan.
“Waktu itu saya ingin menambah keramba, tapi modal tidak ada. Kalau mengandalkan tabungan, tidak cukup,” kenangnya.
Di tengah kebingungan tersebut, Suriati mendengar informasi mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, program pembiayaan yang dirancang pemerintah untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah mendapatkan akses modal dengan bunga ringan.
Awalnya ia mengaku takut meminjam uang ke bank. Kekhawatiran tidak mampu membayar cicilan membuatnya beberapa kali mengurungkan niat.
Namun setelah mendapatkan penjelasan dari petugas BRI mengenai mekanisme KUR dan melihat banyak pelaku usaha lain yang berhasil mengembangkan bisnis mereka melalui program tersebut, keberaniannya mulai tumbuh.
“Bismillah saja. Kalau usaha tidak dikembangkan, kita akan jalan di tempat. Akhirnya saya mengajukan KUR BRI sebesar Rp50 juta,” ujar Suriati.
Keputusan itu menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya.
Dari Modal Rp50 Juta, Keramba Bertambah dan Produksi Meningkat
Dana KUR BRI yang diterimanya tidak digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Seluruh modal dialokasikan untuk pengembangan usaha keramba ikan nila.
Suriati membeli material untuk menambah unit keramba, memperbaiki sarana budidaya, membeli bibit ikan berkualitas, serta menyediakan stok pakan yang memadai hingga masa panen.
Perubahan mulai terlihat dalam beberapa bulan pertama.
Jumlah ikan yang dipelihara meningkat. Tingkat kematian ikan berkurang karena kualitas budidaya yang semakin baik. Produksi ikan nila pun bertambah dibandingkan sebelumnya.
Jika dahulu hasil panen hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini usaha tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang lebih stabil.
“Alhamdulillah, setelah mendapat KUR, usaha berkembang. Keramba bertambah dan hasil panen juga meningkat,” katanya sambil tersenyum.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan, modal usaha memang menjadi salah satu tantangan terbesar. Biaya pembelian bibit, pakan, hingga perawatan keramba membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Karena itu, akses pembiayaan seperti KUR menjadi solusi yang sangat membantu pelaku usaha di desa-desa.
Menjaga Harapan di Tengah Risiko Budidaya
Menjalankan usaha perikanan bukan perkara mudah.
Suriati harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca, kualitas air, hingga fluktuasi harga pakan yang terus mengalami kenaikan.
Ada kalanya ikan terserang penyakit. Tidak jarang pula harga jual di pasaran mengalami penurunan sehingga keuntungan yang diperoleh tidak sebesar yang diharapkan.
Namun pengalaman panjang membuatnya memahami bahwa usaha harus dijalani dengan kesabaran dan perencanaan yang baik.
“Kalau usaha pasti ada risikonya. Yang penting jangan menyerah. Kita harus terus belajar dan mengelola usaha dengan baik,” ujarnya.
Berkat tambahan modal dari KUR BRI, ia memiliki ruang yang lebih besar untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut. Ketersediaan modal membuatnya dapat membeli pakan tepat waktu dan menjaga kualitas produksi ikan.
KUR BRI Hadir Menjangkau Pelaku Usaha Desa
Kisah Suriati menjadi gambaran bagaimana akses pembiayaan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat hingga ke pelosok desa.
Selama ini, banyak pelaku usaha mikro memiliki keterampilan dan peluang pasar yang baik, tetapi terhambat oleh keterbatasan modal.
Melalui program KUR BRI, pelaku usaha dapat memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan usaha produktif dengan skema yang lebih terjangkau dibandingkan pinjaman komersial pada umumnya.
Keberadaan KUR juga membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperluas usaha, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Bagi masyarakat pedesaan seperti Suriati, akses terhadap layanan perbankan tidak hanya menghadirkan modal usaha, tetapi juga membuka harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
Menjadi Inspirasi Bagi Warga Sekitar
Keberhasilan Suriati perlahan mulai menarik perhatian warga sekitar.
Tidak sedikit tetangga dan sesama pelaku usaha yang datang untuk bertanya mengenai pengalaman dirinya mengakses KUR BRI dan mengembangkan usaha keramba ikan nila.
Ia pun tidak segan berbagi pengalaman.
Menurutnya, modal yang diperoleh harus digunakan secara bijak dan benar-benar difokuskan untuk pengembangan usaha.
“Kalau dapat modal, gunakan untuk usaha. Jangan dicampur dengan kebutuhan lain. Insya Allah usaha bisa berkembang,” pesannya.
Kini, setiap kali melihat ikan-ikan nila tumbuh sehat di dalam keramba, Suriati teringat perjalanan panjang yang telah dilaluinya.
Dari rasa takut meminjam modal, menjadi keberanian mengambil keputusan. Dari keterbatasan usaha kecil, menjadi sumber penghidupan yang lebih menjanjikan bagi keluarga.
Di sudut Desa Pulau Terap, kisah Suriati menjadi bukti bahwa ketika akses permodalan bertemu dengan kerja keras dan ketekunan, harapan dapat tumbuh menjadi kenyataan.
Bagi Suriati, Rp50 juta dari KUR BRI bukan sekadar angka. Dana itu adalah pintu yang membuka peluang, menghidupkan mimpi, dan menggerakkan roda usaha yang kini terus berputar di atas keramba-keramba ikan nila miliknya.