Foto: 95 calon Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) mengikuti Bimtek Persiapan Asesmen PAKSI Tahun 2026 yang digelar Inspektorat Kabupaten Tulungagung.

Suaramuda.com – Inspektorat Kabupaten Tulungagung mendorong penguatan budaya integritas di setiap organisasi perangkat daerah (OPD). Salah satunya dengan menyiapkan 95 calon Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Persiapan Asesmen PAKSI Tahun 2026.

Bimtek berlangsung selama tiga hari di Hall Hotel Narita Tulungagung, mulai Kamis (13/8/2026), dan dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Tulungagung Tri Hariadi.

Kepala Inspektorat Kabupaten Tulungagung, Esty Purwantik, S.H., M.H., CGCAE, mengatakan keberadaan PAKSI di setiap OPD penting untuk memperluas gerakan pencegahan korupsi. Targetnya, minimal satu OPD memiliki satu PAKSI.

“Ini sebagai salah satu bentuk upaya kami untuk menjaring lebih banyak PAKSI di daerah. Minimal di satu OPD itu ada satu PAKSI,” kata Esty.

Menurutnya, PAKSI nantinya tidak hanya berperan sebagai penyuluh, tetapi juga menjadi penggerak integritas di lingkungan kerja masing-masing. Dengan demikian, upaya pencegahan korupsi tidak hanya bertumpu pada Inspektorat.

“Melalui PAKSI ini bisa menularkan integritas kepada teman-teman yang lainnya, sehingga program penyuluhan antikorupsi bisa berjalan beriringan. Tidak hanya dari Inspektorat, tetapi masing-masing dinas mempunyai penyuluh sendiri,” ujarnya.

Para peserta mendapat pembekalan mengenai nilai-nilai integritas, tindak pidana korupsi, regulasi, strategi penyuluhan, hingga penyusunan portofolio sesuai kompetensi PAKSI sebagai persiapan menghadapi asesmen.

Esty menyebut pendaftar sebenarnya lebih dari 100 orang. Namun, keterbatasan anggaran membuat peserta yang difasilitasi sebanyak 95 orang. Mereka berasal dari OPD, kecamatan, pemerintah desa, guru, dosen, rumah sakit, mahasiswa, organisasi kepemudaan, hingga peserta dari luar Tulungagung yang mengikuti secara daring.

“Harapannya tentu mereka lulus semuanya untuk menyandang sebagai PAKSI. Tetapi seleksinya tetap langsung dari KPK,” jelasnya.

Meski demikian, Esty menegaskan manfaat Bimtek tidak berhenti pada hasil asesmen. Peserta yang belum lolos tetap memiliki pengetahuan dan bekal untuk menanamkan nilai integritas di lingkungan masing-masing.

“Kalaupun tidak lolos, mereka sudah punya nilai-nilai dasar untuk bisa melakukan sosialisasi di internal mereka sendiri. Mereka sudah punya bekal untuk menularkan integritas,” ujarnya.

Tingginya antusiasme peserta juga mendorong Inspektorat berencana menganggarkan Bimtek serupa setiap tahun. Keberhasilannya tidak hanya dilihat dari jumlah peserta yang lolos asesmen, tetapi juga dari sejauh mana nilai integritas dapat ditularkan di lingkungan kerja.

“Sebenarnya lebih dari itu, mereka sudah punya modal untuk menularkan integritas ke OPD masing-masing, ke dinas, ke teman - temannya dan lingkungan kerjanya. Itu target jangka panjangnya,” pungkas Esty.(Ind)