Foto: Kepala Inspektorat Tulungagung dan Staf sebagai Pemeran Film “Paraf Terakhir”.

Suaramuda.com – Pemberantasan korupsi tidak hanya berbicara tentang aturan dan pengawasan. Di balik setiap keputusan, ada integritas yang menentukan apakah seseorang memilih bertahan pada prinsip atau menyerah pada kepentingan. Pesan itu disampaikan Inspektorat Kabupaten Tulungagung melalui film pendek berjudul “Paraf Terakhir”.

Film tersebut menjadi salah satu cara Inspektorat Tulungagung mengampanyekan pemberantasan korupsi melalui media yang dekat dengan masyarakat. Mengambil latar kehidupan di lingkungan kerja, film ini menghadirkan persoalan yang menguji pilihan dan integritas ketika kepentingan pribadi mulai berhadapan dengan nilai yang selama ini dibangun.

Dugaan suap, manipulasi dokumen hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian dari cerita. Persoalan tersebut kemudian membawa para tokoh pada situasi ketika keputusan tidak lagi sekadar urusan pekerjaan, tetapi menyangkut keberanian mempertahankan integritas.

Kepala Inspektorat Kabupaten Tulungagung, Esty Purwantik, S.H., M.H., CGCAE, mengatakan membangun integritas harus dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

“Membangun integritas itu harus dari dalam diri kita. Saya umpamakan Inspektorat adalah tubuh kecilnya, sebelum mengajak orang lain berintegritas,” kata Esty kepada Suaramuda.Com, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, kampanye pemberantasan korupsi dilakukan melalui berbagai media dan cara agar dapat menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat.

Film “Paraf Terakhir” diproduksi Inspektorat Kabupaten Tulungagung bersama sineas muda Tulungagung yang tergabung dalam Anonema. Para pemainnya berasal dari lingkungan Inspektorat. 

Esty bersama seluruh staf turut mengambil bagian dalam film tersebut. Ia mengaku proses pengambilan adegannya berlangsung singkat.

“Saya satu kali take langsung jadi. Buatnya pas saya menunggu selesai pekerjaan, jadi sampai jam 9 malam,” ujarnya.

Bagi para staf, keterlibatan dalam pembuatan film menjadi pengalaman tersendiri. 

Saat film diputar dan ditonton bersama, sejumlah staf merasa bangga dan terbawa suasana. Bahkan ada yang meneteskan air mata karena untuk pertama kalinya mendapat kesempatan menuangkan kreativitas melalui sebuah karya.

“Paraf Terakhir” tidak sekadar menggambarkan persoalan di lingkungan kerja. Film ini membawa pesan bahwa pemberantasan korupsi bermula dari keputusan-keputusan kecil, terutama ketika seseorang berada dalam keadaan sulit dan harus menentukan pilihan.

Pesan itu tidak hanya ditujukan kepada pemerintah. Dunia usaha dan masyarakat juga memiliki peran dalam membangun integritas dan mencegah praktik korupsi.

Film pendek “Paraf Terakhir” dapat disaksikan melalui kanal YouTube Inspektorat Kabupaten Tulungagung. 

Melalui film ini, pesan tentang pentingnya menjaga integritas dalam upaya pemberantasan korupsi disampaikan dengan cara yang lebih dekat kepada masyarakat.(Ind)