Foto: Kebun Raya Universitas Pahlawan (sumber foto humas UP).

Suaramuda.com - Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) akan menunjukkan eksistensinya di kancah dunia. Perguruan tinggi asal Kabupaten Kampar, Riau ini bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan menggelar agenda internasional bergengsi bertajuk “The 2026 Universitas Pahlawan International Symposium”.

Simposium tersebut akan dilaksanakan pada 8-9 Oktober 2026 di dua lokasi, yakni Hotel Pangeran Pekanbaru dan Kebun Raya Universitas Pahlawan, Kampar, Riau.

Kegiatan ini mengusung tema “Bridging Fragmentation: The Role of Botanical Gardens and Campus Preservation Areas as Biodiversity Corridors Supporting Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS)” Tema ini mengangkat peran strategis kebun raya kampus sebagai koridor penghubung keanekaragaman hayati untuk penyelamatan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra.

Simposium internasional ini rencananya akan dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional. Mereka adalah Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI Moh Jumhur Hidayat, Deputi Bidang Pangan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A Teguh Sambodo, S.P., M.S, Ph.D dan Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria.

Turut hadir pula perwakilan UNESCO Dr. Engin Koncagul dan Rektor Universitas Pahlawan Prof. Dr. Amir Luthfi.

Pembicara dari Kebun Raya Terbaik Dunia

Universitas Pahlawan menghadirkan tujuh pembicara kehormatan (honourable speakers) dari lima negara yang berasal dari kebun raya terbaik dunia.

Di antaranya Dr. Roderick Bouman dari Hortus Botanicus Leiden, Belanda, salah satu kebun raya tertua di dunia, dan Dr. Charles Cannon dari Xishuangbanna Tropical Botanical Garden, China, yang termasuk kebun raya tropis terbesar dan terbaik di dunia.

Lima pakar lainnya adalah Dr. Robinson Alastair (Royal Botanic Gardens Victoria, Australia), Theo Damen (Arboretum Gimborn, Belanda), Dr. Kate Delaporte (Adelaide University, Australia), Pn. Nur Nisha Binti Moh Idrus (Taman Botani Putra Jaya, Malaysia), dan Assoc. Prof. Dr. Rahayu Sukmaria binti Hj Sukri (UBD Brunei Darussalam).

Rektor Universitas Pahlawan, Prof. Dr. Amir Luthfi menjelaskan alasan pemilihan tema Bridging Fragmentation. Menurutnya, Sumatra memiliki keanekaragaman hayati yang sangat penting dan menjadi bagian dari warisan dunia melalui Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS).

Namun, habitat tersebut kini mengalami fragmentasi akibat ekspansi pertanian, pertambangan, permukiman, dan pembangunan infrastruktur yang mengganggu konektivitas ekologis.

"Selama ini perhatian konservasi banyak berfokus pada taman nasional dan cagar alam. Kami melihat ada potensi yang perlu diperkuat, yaitu lahan yang dikelola perguruan tinggi. Kebun raya dan kawasan preservasi kampus dapat menjadi ecological stepping stones dan biodiversity corridors," ujar Prof. Amir Luthfi.

Ia menambahkan, Kebun Raya Universitas Pahlawan diposisikan sebagai living laboratory yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

"Upaya ini tidak mungkin dilakukan oleh Universitas Pahlawan sendirian. Karena itu, simposium ini kami bangun sebagai platform kolaborasi internasional," tegasnya.