Foto: Kantor KBA Tulungagung menjadi ruang literasi sejarah lintas generasi, melibatkan veteran dan organisasi pendukung perjuangan bangsa.

Suaramuda.com – Kantor Keluarga Besar ABRI (KBA) di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, berperan sebagai ruang literasi sejarah bagi pelajar hingga anak usia dini. Gedung yang diresmikan pada 1987 oleh Pangdam V/Brawijaya saat itu, Mayor Jenderal TNI Sugeng Subroto, menjadi wadah bersama sejumlah organisasi yang memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah perjuangan bangsa.

Di dalam tubuh KBA, salah satu unsur utamanya adalah organisasi veteran. Selain itu, kantor ini juga ditempati oleh beberapa organisasi lain, yaitu PEPABRI, DHC ’45, PPAD, PIVERI, dan PERIP . Keberadaan berbagai organisasi tersebut menjadikan Kantor KBA sebagai ruang kolektif yang merepresentasikan lintas generasi perjuangan dan pengabdian.

Ketua Veteran Kabupaten Tulungagung, Kapten Purnawirawan Murdi, mengatakan bahwa keberadaan veteran di dalam struktur KBA memiliki peran penting dalam literasi sejarah, terutama dalam mengenalkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda.“Veteran menjadi bagian dari KBA bersama organisasi lainnya. Melalui ruang ini, sejarah perjuangan bangsa dapat dikenalkan secara utuh, dari masa penjajahan, perjuangan kemerdekaan, hingga mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya, Jumat, (30/1/2026).

Di dalam kompleks Kantor KBA , ada bangunan pendopo yang biasa digunakan untuk kegiatan bagi keluarga besar TNI- Polri , tersemat sesanti Jawa “Sasono triwargo manunggal Sinengkalan, noto ambuko wiwahaning jalmo wisoto” yang telah ada sejak 1991, mengandung filosofi kebersamaan, persatuan, dan semangat pengabdian.

Sementara itu, Ruang DHC ’45 menampilkan simbol Garuda Pancasila sebagai representasi falsafah bangsa dan jati diri Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Murdi menjelaskan, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), terdiri dari Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI), Veteran Pembela, dan Veteran Perdamaian. Para veteran tersebut berasal dari laskar-laskar perjuangan yang berperan aktif dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Sejarah bangsa Indonesia tidak berhenti pada 1945. Perjalanan panjang setelah kemerdekaan juga diwarnai berbagai tantangan, termasuk pemberontakan di sejumlah daerah dan upaya mempertahankan wilayah negara, hingga Papua menjadi bagian dari Republik Indonesia,” jelasnya.

Untuk pelajar dan anak usia dini, literasi sejarah di lingkungan KBA diarahkan pada pengenalan nilai dasar perjuangan, keteladanan, serta semangat kebangsaan yang disesuaikan dengan usia. Selain narasi sejarah, Kantor KBA juga memuat berbagai edukatif, seperti aksara Jawa, Pancasila, patung tangan terbuka yang didalamnya berdiri sang pejuang simbol perlawanan yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.(Ind)