Suaramuda.com - Sektor pertanian masih menjadi sumber kehidupan utama masyarakat Desa Karangrejo, Kabupaten Tulungagung. Hingga kini, hamparan sawah padi tetap mendominasi aktivitas ekonomi warga dan terbukti mampu bertahan meski menghadapi tantangan cuaca dan perubahan musim.
Kepala Desa Karangrejo, Dwi Agus Prasetyo, menyampaikan bahwa sejak dirinya menjabat pada tahun 2021, pola tanam padi di desa tersebut tidak banyak berubah.
“Pertanian di Desa Karangrejo ini dominan padi. Sawahnya memang bagus untuk tanaman padi. Sejak beberapa tahun terakhir, mulai masa COVID sampai sekarang, tidak pernah ganti, terus padi, padi, padi, dan ternyata hasilnya tetap bagus,” ujar Dwi Agus, Sabtu (3/1/2026).
Ia menjelaskan, sebagian kecil lahan yang mengalami kesulitan air dimanfaatkan dengan pola tanam berbeda. Petani tetap menanam padi dua kali, lalu satu kali ditanami palawija atau sayuran seperti sawi. Selain itu, lahan tegalan di sekitar rumah warga juga dimanfaatkan untuk budidaya perikanan.
“Di tanah-tanah yang sulit air, ada yang dibuat perikanan. Ada ikan hias, gurami, patin, jumlahnya juga cukup banyak,” jelasnya.
Untuk mendukung aktivitas pertanian, Desa Karangrejo memiliki tiga kelompok tani yang hingga kini masih aktif. Pengairan sawah mengandalkan irigasi dari Lodagung. Namun, saat debit air menurun, khususnya pada masa pembenihan, petani mengantisipasi dengan membuat sumur menggunakan mesin diesel.
Menghadapi cuaca ekstrem, kelompok tani dinilai sudah cukup mandiri. Pengendalian hama dilakukan secara rutin, meski ancaman alam seperti angin kencang masih sulit dihindari. “Kendalanya kalau ada angin puting beliung, terutama saat padi sudah tua, banyak yang roboh,” ungkapnya.
Selain pertanian dan perikanan, Desa Karangrejo juga memiliki potensi ekonomi lain. Sejumlah warga menjalankan industri konveksi yang mampu menembus pasar luar pulau. Di sektor UMKM, terdapat usaha pengolahan makanan ringan, roti, kue, hingga rambak dari kulit patin.
Terkait ketersediaan pupuk, Dwi Agus menyebut pasokan relatif aman meski jumlahnya terbatas. Kelompok tani melakukan pembagian secara merata, sementara kekurangannya ditutup dengan pupuk non-subsidi.
“Alhamdulillah pupuk bisa diakses. Kalau kurang, sebagian petani membeli yang non-subsidi,” katanya.
Ia juga menyinggung pengalaman gagal panen yang pernah terjadi akibat serangan burung, meski tidak merata.“Pernah ada yang gagal panen sekitar 50 persen. Tapi tahun ini kelihatannya bagus, padinya sudah mulai jebul, mudah-mudahan selamat sampai panen,” harapnya.
Ke depan, Pemerintah Desa Karangrejo berharap lahan sawah tetap lestari sebagai penyangga ketahanan pangan. Meski demikian, pihak desa juga meminta dukungan pemerintah untuk pengembangan fasilitas umum dan kegiatan masyarakat yang sebagian lahannya telah dialihfungsikan sejak program pembangunan kawasan lingkungan pada 2010.
“Mudah-mudahan sawah ini tetap bertahan, karena sumber makanan kita juga dari sawah,” pungkasnya. (Ind).