Foto: Mariyen, Ibu Rumah Tangga Penjahit Pakaian Wanita dan Pria Asal Koto Mesjid, (Rabu 20 Mei 2026).

Suaramuda.com – Di salah satu sudut Desa Koto Mesjid, Kecamatan XIII Koto Kampar, suara deru dinamo mesin jahit saling bersahutan. Di sana, jemari Mariyen (42) dengan cekatan mengarahkan selembar kain brokat mengikuti garis pola. Di sekelilingnya, gulungan kain aneka warna menumpuk rapi—sebagian besar adalah antrean pesanan baju pesta dan seragam keluarga yang sedang menunggu giliran untuk diselesaikan.

Melihat ramainya orderan hari ini, sulit membayangkan bahwa beberapa waktu lalu, rumah produksi jahit milik ibu empat anak ini sempat sunyi senyap tanpa aktivitas.

Ketika Modal Menjadi "Benang Kusut" Usaha

Mariyen bukanlah orang baru di dunia jahit-menjahit. Ia sudah merintis usaha konveksi pakaian pria dan wanita ini sejak tahun 2015. Namun, seperti layaknya roda berputar, badai usaha menghantamnya ketika peralatan produksi dan mesin jahit utamanya rusak.
Keterbatasan modal untuk meremajakan alat-alat kerja membuat Mariyen terpaksa mengambil keputusan pahit: menghentikan total usahanya.

"Waktu itu rasanya sedih sekali. Permintaan dari pelanggan sebenarnya ada, tapi mesin tidak memadai dan modal untuk beli alat baru tidak punya. Usaha sempat mati suri," kenang Mariyen sambil menatap mesin jahitnya.

Suntikan Rp25 Juta: Babak Baru yang Mengubah Nasib

Titik balik itu akhirnya datang lewat program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Mariyen memberanikan diri mengajukan pinjaman modal sebesar Rp25 juta. Dana segar itulah yang kemudian menjadi bahan bakar baru bagi mesin jahitnya yang sempat berdebu.

"Alhamdulillah, berkat bantuan KUR BRI sebesar 25 juta rupiah, saya bisa beli alat produksi baru dan usaha ini bisa kembali berproduksi," ungkapnya penuh syukur.

Hasilnya luar biasa. Begitu mesin baru menderu, pesanan langsung membeludak. Keandalan Mariyen dalam merancang pakaian wanita membuat orderan pelanggannya mengantre panjang. Terlebih saat memasuki musim pesta pernikahan atau menjelang Hari Raya Idulfitri, Mariyen bahkan mengaku sampai kewalahan dan keteteran karena harus menyelesaikan tumpukan kain itu dengan tangannya sendiri.

Menenun Mimpi: Membeli Tanah hingga Mendirikan Rumah Kokoh

Perjuangan keras Mariyen sejak 2015 yang dikombinasikan dengan manajemen keuangan yang bijak membuahkan hasil yang fantastis. Sedikit demi sedikit, keuntungan dari setiap helai pakaian yang ia jahit disisihkan ke dalam tabungan.

Siapa sangka, dari sebuah usaha rumahan di desa, Mariyen mampu membeli sebidang tanah kosong. Tidak berhenti di situ, di atas tanah tersebut kini telah tegak kokoh sebuah rumah permanen—rumah impian yang kini ia tempati bersama suami dan keempat anaknya di tahun 2026 ini.

"Rumah yang kami tempati sekarang ini murni dari hasil keringat menjahit. Tentu saja, lompatan besar ini tidak luput dari dukungan modal KUR BRI yang menjadi jembatan penunjang usaha saya," kata Mariyen bangga.

"Niatin Dulu, Jalan Pelan-Pelan"
Melalui kisah suksesnya, Mariyen menyelipkan pesan menyentuh bagi ibu rumah tangga dan masyarakat lainnya yang ingin memulai usaha namun terbentur biaya. Bagi Mariyen, keterbatasan modal bukanlah alasan permanen untuk berhenti bermimpi.

"Yang penting niatin dulu dan berjalan pelan-pelan. Masalah modal, nanti pasti akan ada jalan keluar, seperti saya yang dibantu lewat kredit KUR BRI ini," ujarnya memberikan motivasi.

Ia berharap program pemberdayaan seperti KUR BRI ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat di pelosok desa, agar setiap orang bisa mandiri secara ekonomi lewat keterampilan yang mereka miliki.