Foto: Mbah Sadin, abdi dalem Pendopo Tulungagung sejak 1970, menunjukkan lumpang batu kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah daerah.
Suaramuda.com – Sebuah lumpang batu kuno yang berada di lingkungan Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Kabupaten Tulungagung menjadi perhatian. Benda yang selama puluhan tahun berada di area pendopo itu diangkat setelah keberadaannya ditelusuri atas inisiatif Ketua TP PKK Kabupaten Tulungagung, Ny. Yuyun Ahmad Baharudin.
Lumpang batu tersebut ditemukan di halaman sisi barat pendopo. Meski sebagian kondisinya sempat tertutup tanah, bentuknya masih utuh dan menunjukkan karakter sebagai lumpang tradisional yang pada masa lalu digunakan untuk mengolah hasil pertanian dan kebutuhan dapur.
Ny. Yuyun Ahmad Baharudin mengatakan, dirinya mendapat petunjuk mengenai keberadaan lumpang batu di lingkungan pendopo. Setelah menanyakan kepada para petugas, diketahui bahwa benda tersebut memang masih berada di lokasi.
"Saya mendapat petunjuk ada lumpang batu di pendopo. Setelah saya tanyakan kepada para petugas, ternyata masih ada dan kemudian saya meminta agar diangkat dan dibersihkan," ujarnya, Kamis (25/6/2026).
Belum ada penelitian resmi yang dapat memastikan usia maupun asal-usul lumpang tersebut. Namun keberadaannya menarik perhatian karena hingga kini masih dalam kondisi kokoh. Dari bentuk dan materialnya, lumpang itu diduga dibuat dari batu vulkanik yang sejak dahulu banyak digunakan masyarakat Jawa karena memiliki daya tahan tinggi.
Abdi dalem pendopo, Mbah Sadin, yang mengabdi sejak tahun 1970, mengaku sudah mengetahui keberadaan lumpang tersebut sejak pertama kali bertugas di pendopo.
"Saya sudah melihat lumpang itu sejak dulu. Waktu itu sebagian badannya sudah tertanam tanah. Tidak ada tulisan atau penanda tahun. Kemungkinan sudah ada sejak zaman adipati, tetapi tidak ada yang tahu pasti," tuturnya.
Menurut Mbah Sadin, benda tersebut merupakan salah satu peninggalan lama yang masih tersisa di lingkungan pendopo. Ia mengingat bagaimana kawasan pendopo pada masa lalu kerap dilanda banjir karena Tulungagung dikenal sebagai wilayah Ngerowo, namun lumpang itu tetap berada di tempatnya hingga sekarang.
Keberadaan lumpang batu ini dinilai memiliki nilai sejarah karena berkaitan dengan kehidupan pendopo pada masa lampau. Sebelum hadirnya peralatan modern, lumpang menjadi alat penting untuk menumbuk padi dan mengolah hasil bumi yang menjadi penopang kehidupan masyarakat agraris.
Tokoh masyarakat Tulungagung, Sri Lasmini Manu, menilai lumpang tersebut bukan sekadar benda lama, melainkan bagian dari sejarah yang masih tersisa. "Lumpang ini mengingatkan bahwa pendopo tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat pada masanya. Sayangnya, generasi yang mengetahui sejarah lama pendopo kini semakin sedikit," ujarnya.
Dalam tradisi Jawa, lumpang memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar alat dapur. Padi yang diolah melalui lumpang dipandang sebagai sumber kehidupan, sehingga keberadaan lumpang sering dikaitkan dengan kemakmuran, kesejahteraan, dan keselamatan masyarakat.
Nilai itulah yang membuat sebagian masyarakat memandang lumpang sebagai simbol pengingat hubungan manusia dengan alam, hasil bumi, dan warisan leluhur. Bukan dalam pengertian mistis, melainkan sebagai bagian dari kearifan hidup masyarakat Jawa yang tumbuh dari budaya agraris.
Sebagai pusat pemerintahan yang memiliki sejarah panjang, Pendopo Tulungagung masih menyimpan berbagai jejak masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap.
Kehadiran lumpang batu kuno tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah daerah tidak hanya tersimpan dalam arsip dan catatan, tetapi juga pada benda-benda sederhana yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada zamannya.(Ind)