Foto: Hasil karya Nono dengan menggunakan alat manual seadanya.

Suaramuda.com - Suara gesekan pahat dengan kayu terdengar berulang dari tangan Nono. Perlahan, potongan kayu kasar itu mulai berubah bentuk menjadi kursi dan meja dengan ukiran yang rapi. Serbuk kayu memenuhi lantai bengkel sederhananya, sementara peluh terus mengalir di wajah pria yang sejak lama menggantungkan hidup dari usaha perabot rumah tangga tersebut.

Tak ada mesin modern di tempat itu. Nono hanya mengandalkan parang, pahat manual, gergaji sederhana, dan keterampilan tangan yang diasah dari waktu ke waktu.

Namun dari alat seadanya itulah, lahir berbagai perabot rumah tangga dengan ukiran khas yang mampu menarik perhatian masyarakat.

Bagi sebagian orang, membuat perabot mungkin sekadar pekerjaan memotong kayu dan merakit furnitur. Tetapi bagi Nono, setiap ukiran memiliki cerita tentang perjuangan panjang untuk bertahan hidup dan menjaga harapan agar tidak kalah oleh keadaan.

Sebelum mengenal program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI, seluruh proses pengerjaan dilakukan secara manual. Ia membentuk kayu sedikit demi sedikit menggunakan alat sederhana yang dimilikinya.

Tangannya sudah terbiasa memegang parang dan pahat sejak pagi hingga malam. Debu kayu dan suara ketukan menjadi bagian dari kesehariannya.

Meski pekerjaan itu menguras tenaga dan membutuhkan waktu yang lama, Nono tidak pernah berhenti belajar memperbaiki hasil karyanya.

“Dulu saya kerja pakai alat manual semua. Tidak ada mesin potong, tidak ada mesin katam. Tapi saya tetap belajar membuat ukiran supaya hasilnya bagus,” ujar Nono, Jumat, 29 Mei 2026.

Keterbatasan alat ternyata tidak membuat hasil kerjanya dipandang sebelah mata. Justru sentuhan ukiran manual buatan tangan Nono menjadi ciri khas tersendiri yang mulai dikenal masyarakat.

Model perabot buatannya terlihat berbeda. Ukirannya rapi dan memiliki nilai seni yang membuat banyak orang tertarik.

Dari mulut ke mulut, pesanan mulai berdatangan. Ada yang memesan meja tamu, kursi kayu, lemari pakaian hingga perlengkapan rumah tangga lainnya.

Meski proses pengerjaannya lebih lama dibanding menggunakan mesin modern, pelanggan tetap sabar menunggu karena menyukai hasil akhirnya.

Namun di balik meningkatnya pesanan, Nono menyadari satu hal penting. Ia tidak bisa terus bertahan dengan alat manual jika ingin mengembangkan usahanya lebih besar.

Waktu pengerjaan yang panjang, tenaga yang terbatas, serta biaya produksi yang cukup tinggi membuatnya mulai memikirkan langkah baru untuk masa depan usahanya.

Kesempatan itu datang ketika ia mengenal program KUR BRI.

Dengan penuh keyakinan, Nono mencoba mengajukan pinjaman KUR BRI sebesar Rp10 juta sebagai modal awal untuk melanjutkan perjuangan usaha perabot rumah tangga yang telah lama dirintisnya.

Pinjaman tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan usahanya.

“Alhamdulillah sejak pinjaman KUR BRI, masyarakat semakin percaya dan tertarik dengan hasil karya yang dibuat,” katanya.

Bantuan modal usaha itu perlahan membantu Nono meningkatkan kualitas produksi. Ia mulai membeli perlengkapan kerja tambahan dan memperbaiki proses pengerjaan agar lebih rapi serta efisien.

Kepercayaan pelanggan pun terus tumbuh. Tidak sedikit masyarakat yang kini datang langsung ke bengkel sederhananya untuk melihat proses pembuatan perabot yang dikerjakan secara manual tersebut.

Bagi Nono, KUR BRI bukan sekadar pinjaman modal. Program itu menjadi penyemangat baru bagi pelaku UMKM kecil seperti dirinya untuk terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan usaha yang semakin modern.

Kini, Nono kembali memiliki mimpi yang lebih besar.

Ia berencana menambah pinjaman KUR BRI sebesar Rp25 juta untuk membeli mesin potong dan mesin katam agar proses produksi menjadi lebih cepat dan maksimal.

Dengan adanya mesin tersebut, ia berharap dapat meningkatkan jumlah produksi tanpa menghilangkan ciri khas ukiran manual yang selama ini menjadi daya tarik utama usahanya.

“Terima kasih BRI, usaha perabot sederhana saya sekarang bisa berkembang dan mulai dikenal banyak orang,” ucapnya penuh syukur.

Ia juga berharap BRI terus menghadirkan inovasi dan kemudahan bagi para pelaku UMKM di daerah agar semakin banyak usaha kecil yang mampu bangkit dan berkembang.

“Semoga BRI terus membantu pelaku UMKM dengan persyaratan yang tidak ribet dan bunga yang ringan supaya usaha kecil seperti kami bisa terus maju,” tutupnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan hadirnya mesin-mesin canggih yang perlahan menggantikan pekerjaan manusia, Nono membuktikan bahwa ketekunan, kerja keras, dan keberanian untuk terus belajar masih memiliki tempat.

Dari tangan yang dipenuhi serbuk kayu dan ukiran yang dibuat dengan penuh kesabaran, perlahan tumbuh sebuah harapan besar tentang mimpi sederhana yang kini mulai menemukan jalannya.