Foto: Psikolog Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah, mengingatkan bahwa media sosial dapat memicu depresi pada remaja.
Suaramuda.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun, di balik kemudahan berkomunikasi dan berbagi informasi, tersimpan ancaman serius terhadap kesehatan mental. Remaja menjadi kelompok yang paling rentan mengalami depresi akibat tekanan psikologis yang muncul dari dunia maya.
Psikolog Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah, mengatakan hiperkonektivitas pada media sosial memberikan kontribusi besar terhadap terbentuknya pola pikir remaja. Beragam konten yang dikonsumsi setiap hari kerap membuat remaja membandingkan diri dengan orang lain hingga memiliki harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
"Media sosial memberikan kontribusi besar pada pola pikir remaja. Gap antara harapan dan kenyataan yang tidak sesuai memicu kondisi mental yang belum siap menerima kenyataan karena remaja belum sepenuhnya mampu melakukan regulasi emosi atas peristiwa yang dialami," ujar Ifada, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, fase remaja merupakan masa ketika kemampuan mengelola emosi masih terus berkembang. Karena itu, pengalaman seperti kegagalan, penolakan, konflik pertemanan, perundungan, maupun tekanan akademik dapat meninggalkan luka psikologis yang tidak terlihat, tetapi berdampak besar terhadap kehidupan mereka."Luka psikologis dapat mengganggu produktivitas remaja dalam menjalani sekolah dan memengaruhi masa depan apabila tidak segera ditangani," jelasnya.
Ifada menambahkan, kesehatan mental remaja perlu menjadi perhatian bersama. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja, seperti menarik diri dari pergaulan, kehilangan semangat belajar, mudah marah, hingga kesedihan yang berlangsung berkepanjangan. Kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai fase biasa, tetapi perlu mendapat pendampingan yang tepat.
Sebagai langkah cepat merespons kondisi tersebut,salah satu Puskesmas Tiudan bersama Psikolog Ifada Nur Rohmaniah menggelar edukasi bertajuk "Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis" pada Jumat lalu.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman tentang pentingnya mengenali tanda-tanda awal luka psikologis, memberikan dukungan emosional kepada remaja, serta mengetahui langkah pertolongan pertama sebelum mendapatkan layanan psikologis lebih lanjut.
Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa luka psikologis sama pentingnya dengan luka fisik. Penanganan sejak dini diyakini dapat mencegah depresi semakin berat, sekaligus membantu remaja tetap produktif, percaya diri, dan mampu meraih masa depan yang lebih baik.(Ind)