Foto: Empat monumen ini saksi bisu sejarah mempertahankan kemerdekaan di Tulungagung . PETA, TRIP, Mliwis, dan Sersan Suharto.
Suaramuda.com - Kabupaten Tulungagung tidak hanya dikenal memiliki kekayaan budaya dan sejarah kerajaan, tetapi juga menyimpan sedikitnya tujuh monumen perjuangan yang menjadi penanda penting perjuangan rakyat, pelajar, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Sayangnya, di tengah perkembangan zaman, keberadaan monumen-monumen tersebut justru lebih sering dikenal sebagai penunjuk lokasi daripada dipahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Praktisi kebudayaan Kabupaten Tulungagung, Sri Wahyuni, yang pernah mengemban berbagai jabatan di bidang kebudayaan sebelum purna tugas dan hingga kini masih aktif menjadi juri di berbagai ajang seni dan budaya, mengatakan ketujuh monumen itu merupakan warisan sejarah yang memiliki nilai edukasi tinggi. Namun, pemahaman masyarakat terhadap sejarah yang diabadikan dalam monumen dinilai semakin berkurang.
"Monumen bukan sekadar tugu atau patung. Setiap monumen menyimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan semangat mempertahankan kemerdekaan. Kalau masyarakat hanya mengenal bentuknya tanpa memahami sejarahnya, maka fungsi monumen sebagai media pendidikan sejarah tidak lagi berjalan," ujarnya kepada Suaramuda.Com, Sabtu (25/7/2026).
Ketujuh monumen tersebut meliputi Monumen Tugu Prasasti Desa Pojok di Kecamatan Campurdarat yang mengenang perjuangan rakyat bersama TNI pada Agresi Militer Belanda II tahun 1949 dan dipersembahkan kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Kemudian Patung Sersan Suharto di depan Terminal Gayatri Tulungagung yang menjadi penghormatan kepada pejuang yang gugur saat memimpin penyerbuan markas Belanda di kawasan Buyut Rambat pada masa Agresi Militer Belanda II. Hingga kini, masih banyak masyarakat yang mengenal patung tersebut, tetapi belum mengetahui kisah perjuangan yang melatarbelakangi pendiriannya.
Selanjutnya Monumen Yonif 505 Mliwis di Boyolangu yang merekam perjalanan satuan pejuang yang pernah bermarkas di Tulungagung dan turut mempertahankan wilayah Tulungagung serta Trenggalek. Ada pula Monumen TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang menjadi penghormatan bagi para pelajar yang meninggalkan bangku sekolah untuk ikut mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan.
Sementara, Monumen Yon Sikatan di Kecamatan Ngantru mengabadikan perlawanan sengit pasukan Yon Sikatan saat menghadang laju Belanda dari arah Kediri. Selain itu ,ada pula Monumen PETA di kawasan tikungan rel kereta api Kota Tulungagung menjadi penanda berdirinya Batalyon Pembela Tanah Air (PETA) Karesidenan Kediri, yang menjadi bagian penting sejarah lahirnya kekuatan pertahanan nasional.
Adapun Tugu Prasasti Meriam Benteng Blorok di Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, mengingatkan pengorbanan pelajar TRIP, termasuk gugurnya Sunomo pada 5 April 1949 saat memindahkan meriam agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Peristiwa itu menjadi salah satu catatan heroik perjuangan pelajar di Tulungagung dalam mempertahankan kemerdekaan.
Sri Wahyuni menilai, sejarah yang tersimpan dalam tujuh monumen tersebut perlu terus dikenalkan kepada masyarakat melalui pendidikan, penelitian, hingga kegiatan kebudayaan. Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya dengan merawat bangunan fisik, tetapi juga harus diikuti upaya menghidupkan kembali cerita sejarah yang ada di balik setiap monumen.
"Kalau generasi sekarang hanya tahu nama tempatnya, tetapi tidak mengenal tokoh dan peristiwa yang diabadikan, lama-kelamaan monumen hanya menjadi benda mati. Padahal, di situlah identitas sejarah daerah dibangun," katanya.
Ia berharap keberadaan tujuh monumen perjuangan di Tulungagung dapat menjadi perhatian bersama sebagai warisan sejarah yang tidak hanya dipelihara, tetapi juga dikenalkan secara luas kepada masyarakat. Sebab, di balik setiap prasasti dan patung, tersimpan kisah perjuangan yang menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia.(Ind)