Foto: Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Tulungagung, Sudarmaji, S.Sos., M.Si.
 
Suaramuda.com – Kemarau panjang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Di daerah ini, ketersediaan air mulai berkurang di sejumlah wilayah, sementara sektor pertanian disebut menjadi yang paling rentan terdampak apabila pasokan air terus menurun.
 
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung telah melakukan mitigasi kekeringan dengan menyiapkan distribusi air bersih bagi wilayah yang membutuhkan.
 
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tulungagung, Sudarmaji, mengatakan penurunan ketersediaan air terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Sendang, Tanggunggunung, Bandung, Besuki, Pagerwojo, Kalidawir, dan Pucanglaban.
 
Menurut Sudarmaji, sejumlah pemerintah desa telah mengajukan permohonan bantuan air kepada BPBD. Distribusi dilakukan berdasarkan permohonan dan kebutuhan masyarakat di lapangan, termasuk penyediaan tandon apabila diperlukan.
 
Hingga Selasa (29/9/2026), BPBD Tulungagung telah menyalurkan sekitar 330.000 liter air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan. Penanganan kekeringan juga mendapat dukungan dari Baznas, TNI, Polri, serta sejumlah organisasi dan kelompok masyarakat.
 
Sudarmaji mengatakan kondisi kekeringan saat ini belum separah periode sebelumnya. Namun, pendataan masih dilakukan karena kebutuhan bantuan dari sejumlah wilayah terus disampaikan melalui pemerintah desa dan kecamatan.
 
Dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air masyarakat. Sektor pertanian menjadi bagian yang paling rentan terdampak karena bergantung pada pasokan air. Untuk penanganan yang berkaitan dengan pertanian, BPBD akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
 
Kondisi lahan yang kering juga meningkatkan risiko kebakaran. Karena itu, masyarakat diimbau berhati-hati terhadap aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama di wilayah dengan kondisi lingkungan yang kering.
 
Sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan air, BPBD mempertimbangkan penyediaan sumber air melalui sumur dalam di wilayah tertentu. Namun, rencana tersebut terlebih dahulu harus melalui survei untuk memastikan ketersediaan sumber air dan manfaatnya bagi masyarakat.
 
Sudarmaji menyebut kedalaman sumur di sejumlah lokasi dapat mencapai sekitar 100 hingga 150 meter. Penentuan lokasi akan disesuaikan dengan kondisi wilayah dan jumlah masyarakat yang membutuhkan.
 
BPBD juga menerima permohonan bantuan dari wilayah yang mengalami kekurangan air. Pemerintah desa dan kecamatan dapat menyampaikan kondisi serta kebutuhan masyarakat agar distribusi air dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan.
 
Sementara itu, informasi prakiraan cuaca yang diterima BPBD menyebut hujan di wilayah Jawa Timur diperkirakan mulai turun sekitar Oktober hingga November. Waktu turunnya hujan tetap bergantung pada perkembangan kondisi cuaca.
 
Sudarmaji mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat dan sesuai kebutuhan. Masyarakat yang mengalami kekurangan air dapat segera menyampaikan permohonan melalui pemerintah desa atau berkoordinasi dengan BPBD.(Ind).