Foto: Praktisi Pendidikan dan Sejarah Tulungagung, Bambang Agus Susetyo, menekankan pentingnya mengenang G30S/PKI 1965 dan menjaga persatuan generasi muda.

Suaramuda.com – Mengenang G30S/PKI 1965 bukan sekadar membuka kembali catatan kelam perjalanan bangsa. Di balik peristiwa tersebut, ada pelajaran penting yang perlu diwariskan kepada generasi muda: menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan maupun informasi yang menyesatkan.

Praktisi Pendidikan dan Sejarah, Bambang Agus Susetyo, menegaskan bahwa peristiwa 1965 masih penting dikenang hingga kini. Menurutnya, generasi penerus perlu memahami sejarah agar dapat mengambil pelajaran dari konflik dan perpecahan yang pernah terjadi di Indonesia.

“Peristiwa ini harus selalu dikenang, khususnya kepada anak-anak bangsa sebagai generasi penerus. Kuncinya satu, kita harus memahami makna persatuan,” kata Bambang, Rabu (30/9/2026).

Ia menilai persatuan tidak cukup hanya menjadi slogan. Nilai tersebut harus ditanamkan melalui pendidikan dan kehidupan bermasyarakat, terutama kepada generasi muda yang kini menghadapi derasnya arus informasi.

“Selisih paham boleh, selisih pandangan boleh. Tetapi jangan sampai kita diadu domba dan dipecah belah,” ujarnya.

Bambang berpandangan, pengalaman sejarah 1965 perlu menjadi bahan pembelajaran agar generasi muda memahami dampak konflik dan perpecahan terhadap perjalanan bangsa. Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai peran PKI dalam dinamika politik saat itu.

“Jadi kuncinya persatuan itu. Kita harus terus belajar dari sejarah masa lalu,” katanya.

Menurut Bambang, pembelajaran mengenai G30S/PKI 1965 perlu disampaikan secara kritis dan kontekstual. Peserta didik tidak hanya menghafal peristiwa, tetapi juga memahami latar belakang serta pelajaran kebangsaan yang dapat diambil.

“Anak-anak harus tahu sejarah masa lalu. Pelajaran ini tidak boleh sirna atau dihapus,” tegasnya.

Ia mendorong pengenalan sejarah tidak hanya dilakukan di ruang kelas. Kegiatan kebangsaan, komunitas dan dialog di tengah masyarakat juga dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk memahami perjalanan bangsa.

Di tengah perkembangan media sosial, Bambang mengingatkan generasi muda agar tidak menerima informasi sejarah secara mentah.

“Sekarang informasi gampang sekali diputarbalikkan. Yang benar bisa dibuat tidak benar, yang tidak benar bisa dibuat seolah-olah benar. Karena itu harus hati-hati,” jelasnya.

Ia juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang membuat produksi dan penyebaran informasi semakin mudah.

“Masyarakat juga harus punya filter. Jangan menerima informasi begitu saja tanpa melihat sumber dan kebenarannya,” tambahnya.

Bagi Bambang, pemahaman sejarah berkaitan erat dengan upaya menjaga persatuan dan nilai-nilai Pancasila. Keutuhan NKRI, menurutnya, membutuhkan peran pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, komunitas dan masyarakat.

“Untuk menjaga keutuhan negara kita ini membutuhkan peran semua pihak. Nilai-nilai persatuan dan Pancasila harus terus diberikan kepada masyarakat dan anak didik,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya penghormatan terhadap Bendera Merah Putih sebagai simbol negara. Menurutnya, pemerintah daerah bersama jajaran kecamatan, desa dan kelurahan perlu aktif memberikan imbauan kepada masyarakat terkait pengibaran bendera sesuai ketentuan yang berlaku.

“Mulai dari desa dan kelurahan harus ada imbauan yang tegas. Pemerintah daerah bersama Forkopimda juga perlu turun ke masyarakat dan mengajak warga menghormati momentum sejarah dengan mengibarkan Bendera Merah Putih sesuai ketentuan,” tegasnya.

Menurutnya, penghormatan terhadap simbol negara bukan sekadar seremoni. Semangat kebangsaan perlu diwujudkan melalui sikap menjaga persatuan, menghormati perbedaan dan kritis terhadap informasi yang beredar.(Ind)